Pemerhati-ku

Sabtu, 26 Juli 2008

dari surgadaim.com

Hujan Pagi Itu / Iya, Jika ada hujan /Aku selalu terkenang p_ea / Pembawa banyak cerita tentang hujan (saat senja) / Ada Hujan Yang Sebentar / Rumah Hujan / Juga hujan yang diwakilkan pada / Badai Bulan Desember / Iya, / Hujan datang / Pada pagi itu / Dan aku / Berteduh di payung penjual baju / Di samping Tugu Pahlawan / Hujan pagi itu / Tak sempat mengingatkanku / Pada p_ea



KAYSER SOZE

Kamis, 03 Juli 2008


dua tubuh

kaku menjulur terdiam dalam gelap
tanpa makna, tanpa arti

meski bersama terasa sendiri
ada kabut tipis memberi arti
sekaligus memisahkan

seperti aku bersamamu
walau dua tubuh disatukan
aku sendiri masih binggung
dengan siapa aku mengantung

dalam kamar , aku temukan
dua tubuh yang selalu menemani
kesendirianku

yang kaku
memberi arti dan hati

(3 July 08)

KAYSER SOZE

Selasa, 01 Juli 2008

kata dari puthut ea

semoga kita bisa bertemu, entah di mana.



KAYSER SOZE

Sabtu, 28 Juni 2008

Mikhail Bakunin

Mikhail Bakunin 1814-1876

Mikhail Bakunin adalah seorang bangsawan Rusia yang kemudian sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat.

Mikhail Bakunin seorang tokoh anarkis yang mempunyai energi revolusi yang dashyat. Bakunin merupakan ‘penganut’ ajaran Proudhon, tetapi mengembanginya ke bidang ekonomi ketika dia dan sayap kolektivisme dalam First International mengakui hak milik kolektif atas tanah dan alat-alat produksi dan ingin membatasi kekayaan pribadi kepada hasil kerja seseorang. Bakunin juga merupakan anti komunis yang pada saat itu mempunyai karakter yang sangat otoritar. Ia memimpin kelompok anarkis dalam konverensi besar kaum Sosialis sedunia (Internasionale I) dan terlibat pertengkaran dan perdebatan besar dengan Marx. Bakunin akhirnya dikeluarkan dari kelompok Marxis mainstream dan perjuangan kaum anarkis dianggap bukan sebagai perjuangan kaum sosialis.

Sejak Bakunin, anarkisme identik dengan tindakan yang mengutamakan kekerasan dan pembunuhan sebagai basis perjuangan mereka. Pembunuhan kepala negara, pemboman atas gedung-gedung milik negara, dan perbuatan teroris lainnya dibenarkan oleh anarkhisme sebagai cara untuk menggerakkan massa untuk memberontak.

Bukunin dalam pidatonya di sebuah kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868), dia berkata:

Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara –pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka”.

Bakunin dan anarkis-anarkis lain dalam First International percaya bahwa revolusi sudah berada di ambang pintu, dan mengerahkan semua tenaga mereka untuk menyatukan kekuatan revolusioner dan unsur-unsur libertarian di dalam dan di luar First International untuk menjaga agar revolusi tersebut tidak ditunggangi oleh elemen-elemen kediktatoran. Karena itu Bakunin menjadi pencipta gerakan anarkisme moderen. Peter Kropotkin adalah seorang penyokong anarkisme yang memberikan dimensi ilmiah terhadap konsep sosiologi anarkisme. Dan bukunin menjadi aktor utama kaum anarkisme

Anarkisme model Bakunin, tidaklah identik dengan kekerasan. Tetapi anarkisme setelah Bakunin kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan yang menjadikan kekerasan sebagai jalur perjuangan mereka. Dan puncaknya adalah timbulnya gerakan baru yang juga menjadikan sosialisme Marx sebagai pandangan hidupnya, yaitu Sindikalisme. gerakan ini menjadikan sosialisme Marx dan anarkisme Bakunin sebagai dasar perjuangan mereka. Bahkan gerakan mereka disebut Anarko-Sindikalisme.




KAYSER SOZE

Kamis, 26 Juni 2008

Kisah Sedih, Ibu Yang Kehilangan Uang Sekolah Anaknya

Kisah Sedih, Ibu Yang Kehilangan Uang Sekolah Anaknya


Seingat saya, sudah terlalu lama tidak menyumbang tulisan di Wiki lagi. Memang saya orang baru yang sedang dalam tahapan belajar menulis dengan benar, baik dari segi bahasa maupun pemakaian kesederhanaan kata yang tidak menghilangkan makna. Ehm sekarang ini mungkin sudah waktunya saya menyumbang tulisan lagi. Firasat saya, semua kata dalam otak harus segera saya salurkan biar semua puas dan bergairah lagi. Tolong mungkin ada kritikan, saya pasti akan terima karena itu adalah satu syarat untuk menjadi maju dan lebih baik.


Entah apa yang akan saya tuliskan sekarang ini.....mungkin satu cerita sedih dan pilu yang saya temui di jalanan Yogyakarta bisa sedikit menjadi sebuah informasi. Akan sangat beruntung jika tulisan saya ini menjadi inspirasi bagi seseorang.


Saya lupa, kapan waktunya, namun tempatnya masih ingat, yaitu di depan pasar Beringharjo. Pasar yang menjadi tujuan dan urat nadi perekonomian Yogyakarta di kawasan Malioboro.


Saya masih ingat namanya, Selly, kurang lebih berumur 38 tahun yang berasal dari Gunung Kidul. Dua jam perjalanan dari kota Yogyakarta ke arah Selatan jika naik sepeda dan bisa sampai empat jam naik angkutan umum.


Awalnya dia, saat itu bersama anak keduanya, yang masih berumur kurang lebih satu tahun, baru menemui suaminya yang bekerja menjadi kuli bangunan di sebuah wilayah Sleman. Tujuannya sudah jelas meminta uang yang akan dipergunakan untuk membayar seluruh biaya sekolah putri pertamanya yang masuk SMP.


Karena ada titipan dari saudara, si ibu ini kemudian mampir sebentar ke pasar Beringharjo untuk membeli sebuah barang. Selesai membeli kebutuhan, sang anak meminta dibelikan es di pinggir jalan pasar. Inilah inti dari kisah yang selalu saya anggap keji.


Uang sebesar Rp 1,2 juta, yang didapatkan oleh suaminya dari mengutang ke rekan kerja maupun jurangan dan untuk kepentingan anak, hilang dicopet. Pelaku tindakan kejahatan ini sangat lihai, beraksi saat ibu menikmati es yang diminta anak yang digendongnya, dengan menyobek bagian bawah tas. Karuan saat sadar dan meraba tasnya, Selly langsung berteriak sejadi-jadinya dan meraung dengan tangisannya di tengah jalan pasar. Tentu saja, kejadian ini menarik para pengunjung pasar. Ingat hanya menarik orang, tanpa ada niatan membantu.


Bahkan seduha tangisa ibu ini masih sempat di bawah ke kantor polisi untuk melaporkan kebejatan dan ketegaan sang pencopet. Meskipun tidak pak polisi tidak bisa mengembalikan uang yang akan dibayarkan sekolah. Tapi atas keteguhan ibu tersebut menempuh jauhnya jarak dan rasa iba, maka polisi patungan hanya sebagai ongkos pulang saja.


Memang terlalu rumit untuk dijelaskan, namun jika kita sedikit berkesimpulan. Dunia kejahatan tidak akan mengenal kata masa depan dan kehidupan anak manusia yang selalu penuh kesengsaraan. Aku memang tidak bisa membantu, namun dengan apa yang aku lakukan ini aku hanya bisa mengutuk perbuatan sanga pejahat tersebut.




KAYSER SOZE

Jumat, 20 Juni 2008