
KAYSER SOZE
SEBUAH PILIHAN UNTUK MELAKUKAN APA YANG TIDAK DILAKUKAN OLEH ORANG LAIN....DAN AKU MAMPU
Lagi-lagi FPI
ini sekali lagi tentang kegiatan organisasi masyarakat (Ormas) yang menamankan dirinya Front Pembela Islam (FPI) di lingkungan sosial yang heterogen di indonesia. Sudah dilarang dan akan ditindak tegas oleh aparat keamanan sesuai hukum yang berlaku, jika mereka masih melakukan upaya penegakan hukum sendiri, eh masih nekad saja.
Ibarat papatah banyak jalan menuju roma. Kali ini yang dilakukan oleh FPI bisa dikatakan banyak kegiatan untuk membesarkan nama dan ditakuti orang. Masih ingat menjelang bulan puasa, pemerintah sudah mengumumkan akan menindak tegas segala upaya penegakan hukum atas penutupan tempat maksiat selama bulan ramadan karena itu adalah hak dari aparat. FPI bisa dikatakan tidak punya taji lagi atau tidak tahu harus berbuat apa yang sering kali dinamakan atas nama agama.
Nah kemarin, Sabtu (6/9) FPI wilayah Jateng-DIY mempunyai cara lain untuk bisa tetap eksis disebut pembela agama Allah. Tidak bisa melakukan penutupan, apalagi melakukan pengerusakan tempat-tempat maksiat di seluruh wilayah Yogyakarta. Mereka melakukan bentuk intimidasi dengan cara lain.
Beberapa anggota FPI sabtu sore tersebut berkeliling sepanjang kota Yogyakarta dan mendatangi beberapa rumah makan yang tetap bukan. Tanpa banyak basa-basi mereka langsung memberikan selebaran yang berisikan himbau agar rumah makan tersebut besoknya harus tutup sehari penuh dan diperbolehkan lagi buka pada sore hario.
“tujuannya adalah untuk mengajak mereka menghormati saudara-saudara muslim yang sedang melakukan ibadah puasa. Jika memang himbaun ini tidak dihindahkan hingga tiga kali maka kami akan melakukan langkah tegas dengan menutup paksa rumah makan tersebut. Rencana ini sedang kita kordinasikan dengan kepolisian dan pemerintah,” kata Korlap FPI yang meminta namanya di sebut dengan Gus Tommy.
Wah, apa namanya ini dan siapa sih mereka?, begitu pikir saya. Sebab kita ini hidup di sebuah negara heterogen yang banyak hidup orang-orang yang berkeyakinan berbeda dan tentunya ini adalah negara hukum. Memang kenapa kalau warung tersebut buka dan ada orang yang makan di sana, sebab tidak hanya kaum non muslimin saja yang tidak berpuasa membutuhkan mereka. Bisa saja kaum muslim yang tidak berpuasa membutuhkan mereka untuk mengisi perut kala lapar.
Bukan hanya itu, saya berpikir mereka ini apa pemimpin yang bisa menghidupi orang lain dengan menghentikan salah satu upaya untuk mendapatkan uang demi hidup. Bayangkan, jika warung-warung tersebut tutup, mereka mendapatkan uang dari mana?.
Bisa saja, buka pada pukul 15.00 WIB, tapi bayangkan berapa jam mereka buka dan siapa saja yang pembelinya?. Sebab dengan rentan waktu yang hanya tiga jam tersebut pembelinya mungkin hanya orang-orang yang berkeinginan berbuka atau makan sore, selebihnya mereka akan kembali ke rumah karena sudah kenyang.
Terus terang secara pribadi saya sangat mengencam tindakan intimidasi yang dilakukan oleh ormas yang menamakan FPI tersebut. Dan saya dengan tegas mendukung langkah aparat kepolisian yang akan menindak tegas dan menghukum sesuai aturan bagi mereka yang tidak mau menuruti hukum.
Banyaknya pihak yang mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera mengesahkan seragam khusus tersangka koruptor mendapat tanggapan dari Ketua KPK, Antasari Ashar. Menurutnya, pihaknya sekarang ini belum bisa mengesahkan atau mempersetujui pengunaan seragam khusus koruptor, dikarenakan ide mengenai hal tersebut tidak berasal dari pihaknya dan sedang dalam wacana.
Hal inilah yang dikatakan oleh Antasari ketika berbicara dalam talk show tentang penanganan korupsi di Indonesia dari perpektif hukum, ekonomi, dan ham di kampus Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Jalan Cik Ditiro kemarin sore (4/9). "Saya sendiri secara pribadi sebagai ketua KPK, hingga hari ini tidak pernah mengeluarkan statemen tentang pengunaan baju khusus koroptur. Namun tiba-tiba banyak orang datang ke kantor pusat KPK dan memberikan contoh banyak baju. Itu semua bukan usulan kami," tegas Antasari.
Mengenai hal itu kebenaran yang sesungguhnya adalah bahwa wacana pengenaan baju khusus koruptor tersebut berasal dari salah satu wakil ketuanya saat didesak oleh wartawan pada suatu acara di Jakarta. Oleh wartawan ditanya, adakah upaya dari KPK untuk tidak membedakan tersangka dari mata hukum, semisal pengunaan seragam khusus. "Wakil ketua saya menjawab, bahwa hal itu sedang diwacanakan. Lalu tiba-tiba terjadilah kasus itu," ujar Antasari.
Tapi memang benar, bahwa sekarang ini pihaknya sedang membicarakan secara serius wacana tentang pengenaan sesuatu atau make-up kepada koruptor agar sama di mata hukum. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa selama di dalam penjara titipan, baik di penjara Mabes Polri maupun Polres yang ditunjuk, koruptor lebih banyak dibedakan dengan pejahat yang lain.
"Bahkan kadang-kadang ketika melakukan peninjauan, saya sulit membedakan mana tersangka mana penjenguk. Karena mereka sama-sama menggunakan baju yang bagus. Ini berbeda dengan pejahat lainnya yang ketika tertangkap mereka langsung mengenakan seragam khusus," jelasnya.
Tapi secara khusus pengenaan aksesoris maupun make-up tersebut haruslah sopan dan memenuhi tata krama, baik dari sisi HAM maupun peraturan peradilan ketika tersangka disidang.
Bukan hanya tentang seragam saja yang diklarifikasi oleh Antasari, acara di televisi yang secara khusus membeda kasus korupsi di Indonesia juga mendapat keberatan darinya sebagai Ketua KPK. "Acara tersebut semisal Kumpulan Perkara Korupsi (KPK) di Indonesia yang ditayangkan oleh salah satu televisi. Saya memandang bahwa acara itu membuat penonton mempunyai pandangan bahwa KPK sudah menzalimi atau berbuat sewenang-wenang terhadap seseorang yang belum terbukti bersalah melakukan korupsi," kata Antasari.
Sebab dari pemeriksaan khusus terhadap acara tersebut, ternyata acara tersebut lebih banyak memuat bukti-bukti yang sudah dikeluarkan dalam persidangan, dan itu bisa diambil bebas oleh pers. Sedangkan dari KPK sendiri tidak pernah mengeluarkan bukti-bukti kuat yang ditemukan tentang keterlibatan seseorang dalam sebuah perkara korupsi. "Bukti-bukti maupun rekaman penyadapan yang kita dapat, secara khusus kita gunakan untuk menangkap tersangka. Bagaimana kami bisa menyebarkan kepada publik, bisa-bisa tersangka malah melarikan diri," tegasnya.
Antasari dalam talk show kemarin sore juga meminta keterlibatan masyarakat untuk membantu memberantas atau penangganan dini segala tindak pidana korupsi yang banyak dilakukan oleh pemegang kekuasaan. Semisal dengan mempertanyakan tentang transparasi pembelanjaan anggaran dalam APBN yang ditentukan setiap tahunnya, baik di pusat maupun di daerah. Hal ini akan memudahkan masyarakat mengawasi serta menilai ada tidaknya kebocoran anggaran tersebut dalam laporan pertanggungjawaban.
Tentang Kejujuran
Kejujuran bagi manusia jaman sekarang adalah sesuatu harta yang sangat suli dicari. Meskipun banyak yang mengangap tidak bernilai, tapi ini kejujuran adalah nilai lebih dari setiap manusia yang berbeda. Begitu sulitnya menemukan kejujuran, bahkan meskipun perut sudah penuh dengan makanan. Tapi masih saja berani mengatakan masih kelaparan diantara orang-orang yang benar-benar kelaparan.
Jangankan menemukan kejujuran yang dilakukan orang lain ke orang lain. Terkadang dan bisa dikatakan mungkin sering, kita tidak pernah jujur kepada diri sendiri. Betapa munafiknya orang-orang, termasuk aku akan sebuah nilai kejujuran.
Hilangnya kejujuran di hati nurani manusia memberikan dampak yang tidak saja menyusahkan diri sendiri, namun orang lain juga pastinya terkena dampaknya. Korupsi uang yang seharusnya bukan miliknya, orang kaya yang membeli BBM subsidi, padahal untuk membeli BBM khusus mobil mewahnya dia masih mampu.
Bayangkan jika semua orang sudah dalam keadaan kenyang, namun mereka hidup dilingkungan orang lapar. Masih berani-beraninya dia berteriak, lapar, lapar, dan lapar. Tak peduli orang lain kelaparan.
Pertanyaan kita, apakah sangat sulit bagi manusia sekarang ini melakukan sebuah kejujuran?. Tidak hanya untuk orang lain, untuk dirinya sendiri. Melakukannya apakah kita harus belajar dahulu?. Atau memang dari hati nurani kita memang tidak ingin berbuat jujur?. Bisakah kita jujur?.
Lalu bisakah kita belajar jujur di sekolah, lingkungan sosial, awal mulanya dari orang tua, atau malah melalui sebuah buku?. Saya yakin, dari banyak pilihan belajar untuk melakukan kejujuran dari semua banyak pilihan, buku adalah pilihan terakhir.
Dari buku, saya malah bertambah yakin dan pasti, dengan jujur ini saya ucapkan, tidak akan banyak buku yang bisa mengambarkan bagaimana kehidupan orang yang selalu berbuat kejujuran.
Maaf setelah membaca panjang dan mungkin anda tidak menemukan maknanya. Tapi terus terang menulis ini buka untuk sebuah wacana promosi. Melainkan mengajak untuk memberikan sikap atau menyingkapi bahwa kejujuran adalah nilai utama. Saya ingin menceritakan tentang sebuah buku yang mengambarkan kejujuran.
Novel karangan penulis gaek indonesia, Arswedo Atmowiloto berjudul Blakanis. Buku yang dikeluarkan pda Juni 2008 dan setebal 283 ini secara gamblang memberikan gambaran nyata bagaimana orang yang berbuat jujur.
Blakanis oleh Arswendo dimulai dari seseorang yang biasa menyebut dirinya Ki Blaka. Mungkin kata ini mempunyai arti harfiah blak-blakan atau bicara terbuka tanpa takut apapun serta dipaksa siapapun.
Ki Blakan mengajak semua orang untuk berbuat jujur. Pertama jujur untuk diri sendiri kemudian jujurlah kepada orang lain meskipun itu akan menyakitkan. Kejujuran adalah modal utama, demikian inti dari buku ini.
“Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan. Melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura berbohong.” inilah awal tulisan yang akan memaparkan tentang arti kejujuran. Berpura-pura kita akan mengingkari kedua hal, baik itu kejujuran maupun kebohongan. Saat melakukan dan terus masuk ke dunia kepura-puraan, maka kita tidak sadar bahwa itu adalah pura-puraan.
Arswendo berani menghubungkan bahwa kejujuran adalah sebuah tindakan yang sangat berkaitan dengan sebuah hubungan atau beribadah pada Tuhan YME. Berkata jujur, sudah mengisyaratkan bahwa kita ini sudah percaya an beriman kepada Sang Pencipta. Berbuat kejujuran seperti malakukan doa.
Sulitkan melakukan sebuah kejujuran?. Arswendo melalu Ki Blaka menyatakan bertindak dengan dasar kejujuran tidaklah sulit, lebih mudah daripada melakukan kebohongan.
“Jujur itu seperti bernafas. Tidak usah belajar lebih dahulu bagaimana memulainya. Sangat sederhana, semua bisa melakukannya. Sayangnya, karena sangat sederhana itulah semua orang mudah melupakannya.”
sayangnya sama seperti di dunia nyata bahwa orang yang selalu berbuat jujur akan hancur. Dengan alasan stabilitas politiklah, ekonomilah, hingga kestabilan yang lainnya. Ki Blaka, orang yang mengajarkan jujur malah hancur atau lebih tepatnya dihancurkan.
Membaca Blakanis, kita seperti diajak untuk membuka diri sendiri. Sudahkan kita jujur, pada orang lain atau kepada diri sendiri?. Dan mungkin jujur kepada Ilahi.
Poin penting dari buku ini, pertama kejujuran masih ada dan masih banyak yang melakukannya. Meski terlihat nyata di novel, namun berbanding terbalik di dunia nyata.
Kedua, jujur adalah merupakan doa dan nafas bagi setiap manusia yang melakukannya. Sehingga tidak ada alasan satupun ataupun bagi manusia berbuat sebuah kejujuran. Mulailah dengan nafas, kemudian doa.
Ketiga, ini yang sedikit membuat bahagia. Arswendo berani menuliskan nama saya sebagai satu-satunya penganti dari Ki Blakan, Kukuh. Orang yang melakukan kejujuran. Sekarang anda boleh bertanya, bisakah saya melakukan kejujuran?.
“Bersama Waktu”
Di kamarku
Sudah tak lagi sepi
Sudah ada bunyi-bunyi
Walaupun kecil, selalu mengisi
Dengarkan
Biarpun halus
Semuanya berjalan teratur
Dan kupastikan akan menghibur
Bunyi itu
Mengingatkanku akan waktu
Dimana aku slalu sendiri
Menyepi kemudian sendiri
Sendiri lalu menyepi
Apakah terasa dingin?
Kapan?
Ketika sendiri?
Akhirnya
Sendiriku bukan karena menyepi
Tapi aku ingin sendiri
Bersama sepi yang berarti
(06/08/08)
“Sekelumit Djogjamu”
Melangkahku di Gondolayu
Code
Tak terhitung
Berapa kali kau menyapaku
Pernahkan kau berakhir di Wirobrajan
Saat Gondokusuman dan Gondomanan, bersanding berhadapan
Code
Aku ingin memelukmu
Aku ingin merayumu
(06/08/08)