Pemerhati-ku

Minggu, 29 Mei 2011

Kampung tanpa jalan

Sepanjang hidup kalian, pernahkan kalian mendengar sebuah kampung yang tidak memiliki jalan masuk seperti kampung lainnya. Maksudku jalan masuk yang menandakan masuk sebuah kampung dengan gapura atau hanya semacam simbol yang menanda memasuki sebuah kampung. Anehnya, meskipun tidak memiliki jalan masuk, namun penduduk kampung ini hampir absen di dunia umum.
Jika kalian ingin mendengar bagaimana kehidupan kampung tanpa jalan, adanya baiknya kalian meluangkan waktu sejenak untuk mendengar cerita tentang kampung tempat aku dibesarkan yang sama sekali tidak memiliki jalan masuk.
Kampungku berada di sebuah desa dari kecamatan yang tidak pernah diperhatikan pemerintahan daerahnya di bagian timur pulau ini. Sehingga kami, secara umum menyatakan hidup dan bekembang sendiri tanpa bantuan dari pemerintah.
Sebenarnya ini bukan kampungku, maksudku, sebenarnya aku dan keluargaku baru pindah ke kampung ini ketika kami lima bersaudaran sudah bersekolah semua. Sedangkan kampung tempat aku dilahirkan sekarang ini sudah berganti dengan bangunan megah yang dinamakan sebagai tempat penyimpanan uang.
Terletak di pinggir sungai besar dan himpitan bangunan megah sebuah hotel, lahirlah kampung yang hingga sekarang ini tidak memiliki jalan masuk. Menempati bekas cengkungan aliran sungai yang bertahun-tahun sudah tidak dialiri lagi, maka munculan kampung baru yang dihuni warga pendatang dengan cara menyewa seumur hidup kepada aparat dinas pengurusan air yang uangnya masuk kekantong sendiri.
Karena berada di bekas cengkungan, maka kampung baru ini lebih banyak disebutkan banyak orang dengan nama “Ledok Asri”. Yang artinya hunian yang berada di ledokkan atau cengkungan sebuah sungai.
Lantas bisa aku pastikan, kalian pasti akan bertanya bagaimana rumah-rumah warga itu bisa dibangun dengan semen dan material umum lainnya, sedangkan jalan masuk saja tidak ada?
Seperti yang aku sebutkan tadi diatas, memang kampungku tidak memiliki jalan masuk seperti layaknya kampung lainnya. Sejak diresmikan sebagai kampung baru, maka warga baru dan lama berunding yang akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan warga untuk membeli sebidang tanah dari salah warga yang lebarnya kurang dari satu meter. Karena sangat membutuhkan, lantas warga baru itu lantas sepakat membeli tanah itu untuk dijadikan sebuah jalan dengan panjang kurang dari sepuluh meter sebagai jalan masuk.
Nah dari jalan baru inilah, maka berbagai kebutuhan material semisal bata, kayu, semen, dan berbagai peralatan lainnya didatangkan dari dunia luar. Sedangkan untuk batu dan pasir, warga baru ini dengan mudahnya bisa mendapatkan di sungai besar yang berada di sebelah barat kampung.
Selain jalan baru yang dibikin bersama warga atas, kami biasa menyebut warga lama demikian karena mereka menghuni bagian atas dari kampung kami. Kami juga memiliki jalan lain yang kami kira malah sangat menantang dan menyenangkan. Bahkan kami memiliki dua jalan.
Yang pertama, adalah jalan masuk setapak yang berujung di jembatan besar yang berada di sisi selatan kampung atau arah hilir. Sehingga bila melewati jalan ini, maka kalian diwajibkan dahulu meniti jalan menanjak untuk sampai di bibir jembatan yang langsung berhubungan dengan jalan raya. Tentu saja, jika kalian lewat malam hari, jalan ini akan semakin menantang dan penuh bahaya.
Selain di kanan-kiri masih semak tanaman berduri, selain harus menanjak dalam gelap, di beberapa tempat terutama di rerimbunan pohon bambu kita akan mendengar suara-suara orang bercakap-cakap sambil sesekali kita akan melihat setitik sinar yang berasal dari rokok. Jangan kuatir atau takut mereka akan menganggu, karena mereka memang tidak ingin diganggu.
Jika kalian berpikir itu adalah dedemit penjaga sungai ini, maka itu salah. Mereka adalah manusia yang sama dengan kita. Namun mereka adalah manusia malam. Dimana mereka ini adalah para penjaja dan penikmat cinta sesaat. Ya memang kampungku memang bersebelahan dengan portitusi murahan yang tempat kencannya di bawah rimbun bambu.
Jangan berharap kalian akan menemukan wanita mudah yang cantik dan segar layaknya portitusi lainnya. Penjaja portitusi pinggir kali ini lebih banyak dihuni ibu-ibu yang layaknya disebut anak-anak kita dengan panggilan nenek dan untuk menarik perhatian pembeli mereka memakai bubuk berwarna putih dalam dosis yang tidak wajar sehingga terlihat terang di dalam gelap.
Karena beroperasi malam hari, dapat dipastikan kita tidak akan menemukan mereka siang hari. Sebab memang mereka bukan warga sini. Tambahan lagi, kami tidak mungkin membubarkan atau melarang mereka, sebab mereka sama seperti kami yang juga mencari makan di tengah jaman yang semakin edan ini. Asalkan mereka tidak menganggu, kami tidak akan menganggu.
Sedangkan jalan kedua yang juga sama-sama menantang dan menyenangkan, adalah menyeberangi sungai hingga ke daratan sebelah barat. Tentu saja, jalan ini lebih banyak munculnya ketika musim kemarau datang dimana saat itu aliran sungai menjadi kecil sehingga terjadi pendangkalan.
Dari menyebrangi sungai ini, kita akan dihadapakan pada jalan setapak yang juga sama-sama menanjak, namun jika sudah sampai di atas maka kepuasan batin saya pastikan akan kalian dapat. Dimana dari atas bukit itu kita bisa melihat kampung ledok asri dari bagian atas, semua terlihat indah bagai lukisan kampung yang muncul di tengah hutan bambu yang asri.
Namun semenjak kampung ini hadir, kedua jalan itu lebih banyak dipergunakan jika keadaan terdesak. Semisal ketika terjadi kejar mengkejar dengan pencuri ayam yang kebetulan masuk, inilah dua-dua jalan utama yang akan dipergunakan pelaku kejahatan untuk melarikan diri dan tentu saja karena tidak paham medan kami mudah saja menangkapnya.
Tentang kehidupan di kampung tanpa jalan ini, secara pribadi saya menyatakan inilah satu-satunya kampung terdamai di dunia. Bayangkan, berada di tempat yang tersembunyi dan jauh dari peradaban, kampung ini juga memiliki pemandangan alam yang tiada duanya di bagian lain dunia ini yang berasa dari sungai besar yang tiada pernah berhenti mengalir.
Karena sulitnya akses masuk, maka beberapa warga yang gemar berjudi lantas mendirikan sebuah pos kamling di pingir sungai dan dibawah rumpun bambu. Disanalah hampir setiap malam pertandingan judi dengan omzet ratusan ribu rupiah digelar dan aman dari gangguan aparat keparat.
Dalam proses pembangunan kampung baru ini, kami warga baru sepakat mendesain kampung ini dengan konsep terbuka dan memudahkan untuk komunikasi. Sehingga bangunan tiap rumah diatur sedemikian rupa dan dihubungkan dengan jalan setapak yang sesuai kesepakatan tidak akan pernah dibeton karena ingin menjaga alam dengan membiarkan alir mengalir dan masuk ke tanah.
Jalan-jalan ini selain menghubungkan tiap rumah, dipastikan akan bermuara pada area kosong yang berada di tengah kampung. Di area kosong yang tidak memiliki rumput indah ini dan hanya berhiasakan pohon jambu dan mangga yang setiap musim selalu dinikmati anak-anak kami setiap sore berkumpul untuk beraktivitas bersama.
Entah itu bermain bersama anak-anak atau melihat mereka bermain sepak bola, voli, ataupun hanya sekedar berlari-lari keliling area karena tidak adanya kendaraan motor yang bisa berkeliaran semaunya hingga capai itu sangat menghibur kami. Bahkan tidak sekedar menjadi ruang publik, area kosong dengan kursi-kursi bekas bus kota itu menjadi medai bergosip ria bagi ibu rumah tangga tentang berbagai hal.
Ini masih belum cukup, karena tidak akses masuk sehingga sedikit saja orang yang berseliweran, terutama orang asing, kami dengan mudahnya bisa menikmati aliran sungai besar itu.
Yang tidak hanya menjadi tempat sampah yang besar, namun sungai besar itu juga menjadi sebuah ruang umum bagi kami untuk bersosialisasi berbarengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga semisal mencuci baju. Namun karena tidak adanya orang asing, para ibu-ibu dan remaja, dan tidak lupa kami para pria dengan tidak malunya mandi di sungai tanpa takut diintip orang lain.
Tapi yang paling aku senangi dari kampung ini adalah ketika musim kemarau panjang tiba. Pasalnya ketika air sungai mengecil dan itu berakibat sedikitnya air di sumur kami, maka kami para pria bergotong royong membuat belik atau kolam mata air yang kami pergunakan untuk mandi maupun kebutuhan yang berdasarkan air.
Jadi bisa dipastikan, ketika sore hari, baik wanita maupun pria akan berkumpul di pinggir sungai untuk menikmati air kolam yang sangat jernih itu. Bahkan untuk kolam pria dengan kondisi terbuka, kami tidak malu untuk saling bekejar-kejaran dan mengoda yang lain di tengah-tengah mereka yang ngobrol serta berguyon seru. Inilah aksinya bermain sebelum mandi.
Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari jembatan besar itu, biasanya anak-anak baru gede lebih senang dengan mengobrol dengan cara telanjang bulat dan duduk di atas batu sungai. Mereka bahkan tidak malu-malu mengoda anak-anak yang baru pulang sekolah sore dengan berteriak serta melompat-melompat mengoda agar diperhatikan bahwa mereka telanjang.
Akhirnya karena lebih banyak diisi dengan kegiatan ngobrol, maka kegiatan mandi yang seharusnya sebentar bisa sampai berjam-jam. Sebagai gambaran saja jika kalian datang sekitar pukul empat sore maka dipastikan kalian akan sampai rumah ketika adzan magrib berkumandang dengan wajah ceria dan teriakan-teriakan masih saling mengejek dengan teman sekampung yang memang rumahnya tidak berjauhan.
Dengan posisi rumah saling berdekatan, selain menimbulkan keakraban penghuninya, berbagai permasalahan tentang keluarga juga tidak pernah luput menjadi pembicaraan bagi kami yang memang bisa mendengarnya dari tempat duduk kami menikmati makan malam sambil menikmati anak belajar.
Lalu bagaimana dengan ada kematian, bukankah akan kesulitan jika harus mengeluarkan jenazah dari kampung yang tidak memiliki jalan masuk ini?
Sebenarnya hal itu juga pertama kali membinggungkan warga kampung kami saat mereka mulai menghuni. Namun ketika kakekku meninggal dunia, atau artinya dia adalah kasus kematian pertama warga kampung mencari solusinya dengan mencari keranda mayat dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan biasanya.
Bila keranda biasanya digotong penuh oleh empat pria di empat sisinya, maka ketika melintasi jalan kecil yang menghubungkan kampung ledok dan atas, maka keranda itu tidak diangkat lagi melainkan dijinjing layaknya membawa keranjang dan ini menjadi pemecahaan selamanya. Mudah kan.
Namun semuanya ini hanya tinggal kenangan abadi bagi kami warga ledok asri yang masih hidup. Pasalnya sejak kami menghuni kampung ini sepuluh tahun yang lalu, banjir besar yang terjadi pada tengah malam satu malam di bulan suro menghancurkan kampung yang asri dan damai ini. Tercatat hampir separuh warga kampung ini tidak bisa menyelematkan diri karena terjangan air sungai yang datang tanpa isyarat dan esok paginya mereka diketemukan terjepit bebatuan di bagian hilir.
Satu tahun sejak bencana itu terjadi, aku kembali lagi, namun sekarang ini bukan rumah penduduk yang rapi dan asri lagi yang aku temui, melainkan semak-semak liar yang tumbuh tanpa terawat di segala sudut sisa bangunan yang masih tertanam. Semenjak banjir itu, pemerintah memutuskan melarang siapapun menghuni lagi wilayah sungai itu karena dinilai bahaya.
Dari sinilah, akhirnya aku bisa belajar satu hal lagi, bahwa bagaimana kuatnya kita melawan alam, bisa dipastikan kita akan kalah juah di suatu waktu tanpa bisa kita pahami lagi.









KAYSER SOZE

Kamis, 10 Maret 2011

Goresan secarik hati

Di sepanjang malam yang telah aku lalui. Selalu muncul pertanyaan tentang apakah aku sudah bisa menulis dan menghasilkan karya. Jika cuma goresan-goresan huruf di kertas kosong, itu aku sudah lakukan dari banyak tahun lalu.
Terus terang, semua yang kuhasilkan itu tanpa niat dan hanya iseng belaka. Jika pun sudah berhasil menjadi tulisan panjang, kiranya ketika dibaca dengan seksama tulisan itu tidak punya ruang dan memiliki arti.
Jangankan tulisan panjang. Untuk tulisan pendek saja, yang katakan hanya berisikan empat paragraf saja, aku pun terkadang harus dipaksa. Bahkan tidak hanya tubuhku yang harus dipaksa menulis dan merangkai huruf, otak yang sudah sehari penuh dipenuhi berbagai target serta perencaan dan sasaran harus turut serta dipaksa agar bisa menghasilkan sebuah karya yang bisa dibilang mengagumkan.
Tapi apa daya, dengan sgala upaya dan sedikit pemaksaan yang sangat berat, akhirnya memang aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan yang katakan memakam dua halaman di layar komputerku. Tapi kembali ke kata tapi, semua itu sulit untuk dicari makna maupun pesan yang terkandung dalam tulisan itu. Bahkanpun jika bisa diartikan, makan bisa dipastikan orang yang mengartikan adalah sama-sama tidak paham dan maha tidak tahu tapi sok tahu. Sama seperti aku.
Itu dari segi tulisan saja. Sedangkan dari sisi eksplorasi untuk bahan tulisan, aku hanya sebatas deret ukur dalam sebuah pengaris yang memiliki panjang kurang dari 30 cm. Atau bisa kau katakan tidak panjang alias pendeka saja.
Dari banyak buku serta berbagai bahaan bacaan yang setiap hari aku lahan. Aku dengan mudahnya dapat mengambil kesimpulan dan gambaran bahwa penulis sebuah karya yang menurutku menarik adalah seseorang dengan kemampuan imajinasi yang luas, berwawasan luas, serta banyak pengalaman di banyak tempat. Sehingga tulisan yang dihasilkannya memiliki bobot cerita yang enak dan bisa menetramkan pembacanya.
Tidak hanya itu, runut tulisan yang bertutur alias bercerita membuat membaca tulisan yang panjang itu tidak terasa. Jika si penulis seperti mengeluarkan buku yang memiliki ketebalan hingga beberapa cm meter maka akan tetap dengan mudah dilahap dan dipahami pesannya.
Bahkan dari beberapa karya penulis terkenal, mereka tidak butuh banyak referensi untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Dari sebuah berita di televisi, koran, maupun radio yang singkat dan padat itu, seorang penulis yang profesional mampu menghasilkan tulisan panjang berlembar-lembar. Isinya, sangat menarik dan tidak perlu didramatisir seperti koran-koran murah yang hanya sekedar membutuhkan sensasi untuk bisa lebih dikenal.
Sedang aku. Tentu saja aku berbeda dengan para penulis terkenal yang karyanya begitu banyak aku baca, atau hanya sesaat saja karena memang minat bacaku sangat rendah. Sama seperti manusia lainnya di negeri yang katanya indah ini.
Sedikit bercerita. Dari banyak karya tulis yang pernah aku hasilkan dan sedikit aku pamerkan dengan memuatnya di blog pribadi, semuanya atau bisa dikatakan sebagaian besar berasal dari diri sendiri.
Entah bertemakan cinta, kasih sayang, kesepian, kesuntukkan, kemarahan, kecemasan, kebosanan, atau malah keinginan untuk mengakhiri kehidupan ketika menghadapi masalah yang dianggap tidak memiliki jalan keluar. Semuanya berasal dari pengalaman diri sendiri.
Aku ngak tahu, apakah tulisan yang aku buat seperti tulisan Samuel Mulia yang setiap akhir pekan dimuat di media nasional dan menjadi rubrik tetap untuk dibaca. Di sana, sang penulis lebih banyak menyoroti diri sendiri serta memperlakukannya dengan mengambil satu tema yang ditemui dalam rentan satu minggu sebelumnya. Meskipun bisa dikatakan sama, mungkin itu hanya mimpi saja.
Aku tidak mengeluh. Aku hanya sedikit kecewa. Bayangkan dengan begitu banyak hal-hal yang sudah kualami serta aku dapatkan dari berbagai pengalaman serta alur kehidupan yang setiap hari berubah dan bertemu dengan banyak orang. Aku tidak bisa menghasilkan tulisan yang indah dan menarik untuk selalu dikenang banyak orang.
Kata orang, menulis itu mudah. Namun kenapa untuk aku menulis itu sangat sulit sekali. Memandang layar kosong di komputerku, aku tidak tahu harus mengisi dengan kata-kata apa untuk selanjutnya menceritakan tentang apa yang ada di dalam kepalaku ini. Aku sulit dan akan tetap merasa tidak mampu untuk menghasilkan tulisan yang indah dan akan selalu dikenang oleh banyak orang.
Mungkin, lewat tulisan ini aku akan temukan apa yang salah dalam diriku ini. Kenapa hanya diriku sendiri yang hanya bisa menulis dan menikmati tulisan hasil karya sendiri. Ya seperti kata orang, aku termasuk golongan orang yang suka ber-onani.
Jikapun kau bisa membantu, aku malah bertanya apa yang bisa kau bantu. Jika kau memberi nasehat, aku pun akan bertanya apakah aku akan bisa kau beri nasehat serta merubah hidupku.
Kawan coba kau pahami lagi aku dengan membaca tulisan dari atas hingga kebawah ini. Jika kau memang bisa menemukan solusi yang tepat untuk apa aku menulis tulisan ini. Aku mohon jangan bantu aku. Cukup hanya dengan tulisan saja kau sampaikan ke aku. Terima kasih.




KAYSER SOZE

Hitam-Putih


KAYSER SOZE

Selasa, 08 Maret 2011

Sebuah makam malam

Sekarang aku selalu berpikir apa yang akan aku katakan ketika sampai di dalam sana. Terus terang ini adalah pengalaman pertama bagiku dalam dunia mistik yang selalu menjadi rujukan sebagai besar masyarakat pulau ini.

Tatapan matanya setajam elang seperti biasa ketika mengajakku bicara. Dia tidak akan pernah melepaskan dari wajahku hingga aku menyatakan iya atau setuju dengan tindakan maupun ide yang selalu disampaikan kepadaku. Dan anehnya aku selalu manut laksana kerbau dicucuk hidungnya dengan tali.

Karena aku yakin semua ide dan tindakan yang dia rencanakan akan memiliki tujuan baik serta memberi arti bagi orang banyak.

“kita ke sana hanya memita ijin saja, tidak lebih. Coba kamu pikirkan, siapa yang ada di sana. Dia dulu adalah penguasa tunggal pulai ini yang dikenal sepanjang hayat sejarah sakti dan beristrikan bidadari yang setiap tahunnya meminta tumbal,” katanya saat aku berada di ruang kerjanya.

Baginya berangkat ke makam itu bertujuan sangat penting. Sebab dalam logika berpikirnya, selama ini kami, sebutlah dia, aku, kami, dan mereka itu saat ini sedang mencari makan di daerah ini. Sehingga wajar saja bila dalam tahun ke tiga ini kami merencanakan untuk berkunjung ke sana untuk meminta ijin agar kami diperkenankan mencari kehidupan di wilayah yang dulu dipimpimnya.

Tidak hanya sekedar meminta ijin, keberangkatan kita ke makam menjelang petang itu juga bertujuan untuk meminta berkah sang manta penguasa pulau ini agar dalam mencari nafkah kehidupan ini dijauhkan dari segala mara bahaya, rintangan, serta diberi kemudahaan.

“kita akan berangkat bersama dengan empat orang lainnya. Bagi saya ini adalah kedua kalinya ‘kami’ mengunjungi sesepuh penguasa wilayah untuk meminta ijin. Sebelumnya kita sudah berkunjung ke makam panembahan, dan saya rasa hasilnya sudah terlihat,” katanya menyakinkan dan aku pun mengiyahkan saja karena aku ingin merasakan pengalaman itu.

Satu lagi, sebelum aku keluar dari pintu ruang kerjanya, syarat yang harus aku pegang dan janjikan adalah jangan sampai kepergian ini disebarkan atau diceritakan kepada orang lain. Terutama yang berada dalam satu atap dan mencari kehidupan di perusahaan ini.

Singkat cerita, usai tidak adanya lagi pekerjaan yang harus diselesaikan, berangkatlah kita berlima orang dalam satu mobil. Jam menunjukkan pukul 15.00 wib saat kami bergerak ke arah timur dan sesudah lampu merah pertama berbeloklah mobil menuju gerbang yang orang sering namakan ‘menara gading’. Dari sini kami melewati jalan-jalan, yang terus terang saja belum sekalipun aku lewati, dan setelah kusadari menuju pusat makanan khas kota ini.

Lima belas menit dalam perjalanan, akhinya mobil merah itu pun berhenti di depan sebuah warung makanan khas yang setelah kusadari lagi ternyata berada tepat di sisi selatan gerbang melengkung seperti yang tadi aku lewati.

“aku harap kita menjaga segala omongan yang keluar dari mulut kita. Sebab orang ini selain terkenal sebagai orang yang hebat dalam spiritual, dia juga merupakan keturunan bangsawan yang hingga sekaranng masih dihormati masyarakat. Terutama dirimu, hormati beliau,” katanya sambil menunjuk aku.

Bagiku, perkataan yang barusan diucapkan memang wajar dan pantas dikeluarkan. Karena selama ini di atap perusahaan kami, aku terkenal paling blak-blakan dalam bicara tanpa peduli siapa yang kuhadapi. Entah itu meruapakn cacian kepada orang lain yang aku nilai salah, maupun pujian kepada rekan kerja yang dengan segala upayanya menghasilkan hasil yang terbaik. Ini adalah ciri khas daerah lahir dan besarklu.

Memasuki ruang tengah, ini adalah rumah tua yang aku duga sudah berusia ratusan tahun dan mendapatkan renovasi modern baik dari lantai maupun dindingnya, sudah terdapat beberapa orang yang lain yang kiranya mereka adalah tamu. Dalam hitunganku terdapat dua perempuan serta tiga cowok lainnya.

Kelima orang ini terlihat sangat fokus memperhatikan seorang wanita yang berada di pojok tengah mereka yang mendadak berhenti dan menyilahkan kami untuk duduk. Menanggapi sambutan dari tuan rumah, lantas kami menyapa tamu-tamu yang sudah datang duluan sambil tidak lupa menyebutkan nama. Mirip orang kenalan lah.

“terus terang saat ini saya sudah tidak merasa kebinggungan atau risau dengan material untuk menunjang kehidupan. Sebab kapanpun selalu saja ada orang atau kenalan yang dulu kita tolong mengirimkan uang dalam jumlah besar ke rekening kami tanpa diminta,” jelasnya ibu yang aku tidak ingin tahu namanya mulai bercerita di hadapan kami.

Menurutnya, selama ini kenalannya banyak yang berasal dari luar pulau dan kebanyakan mereka adalah para pejabat yang dulu saat meraih kekuasaannya meminta bantuan mereka. Selama ibu bercerita, daya pikirku menangkap satu hal yang selalu dia andalkan sebagai tanda bahwa dia adalah orang pintar, yaitu seorang pemimpin daerah di pulau borneo yang berhasil mendapatkan pendapatan daerah tertinggi seluruh negeri.

“anda pingin tahu kenapa dia bisa sukses, sebab selama masa pemilihan beliau selalu menuruti perkataan dan melaksanakan strategi yang sudah saya rencanakan bersama leluhur. Anda harus percaya bahwa kesuksesanya tidak terlepas dari usaha saya. Jika tidak percaya silahkan tanya,’ katanya sambil mempersilahkan kami meminum teh yang sudah ada di meja.

Disela-sela cerita panjangnya itu, terkadang, ibu yang seharusnya pantas aku panggi emak itu meminta suaminya yang aku lihat jauh lebih muda untuk menyiapkan segala persyaratan yang diperlukan sebelum berangkat. Baru aku tahu nama suaminya adalah Ki Sabdo Ungkoro.

Karena terus-menerus bercerita tentang kesuksesan dia membesarkan orang lain di wilayah lain. Tentu saja keisengannku pun muncul dengan mencoba melontarkan satu pertanyaan saja.

‘jika bisa menyukseskan orang diseberang, berarti peluang anda menyukseskan orang di sini lebih besar. Sudah pernah pemimpin baru di sini meminta bantuan anda?,” jelasku sambil tersenyum karena aku berpikir ini adalah pertanyaan yang mengelikan.

“ha ha ha ha, anda benar. Dan anda pun harus tahu bahwa saya malas memberi pelayanan kepada orang di sini. Tahu kenapa, sebab mereka kebanyakan tidak mau bayar atau paling meminta gratisan ke kita. Ogah aku dimintai tolong,” ujar ibu dan kemudian diikuti tawa lainnya.

Selama menunggu itulah, pembicaran selepas pertanyaan konyol itu mulai lancar dan tidak ada batasan lagi. Semua bebas bicara tentang politik, uang, hukum, demokrasi, dan tentu saja seks.

“maaf ya saya tidak bisa menemani, biar semuanya diurus sama suami saya. Meskipun dia berumur lebih muda, tapi bagi saya dia sudah tua dalam pemikiran dan ilmu. Percayalah,” ungkap perempuan bertubuh tambun itu saat kami berpamitan bergerak menuju komplek makam.

Beriring-iringan tiga mobil, kami lantas bergerak menuju ke arah selatan. Barulah di dalam mobil itu aku baru tahu, bahwa perempuan itu merupakan keturunan langsung dari raja ke enam daerah ini dan masih sangat dihormati.

Sekitar satu jam perjalanan, barulah kami memasuki area pemakaman yang dulu saat aku masih dilapangan merupakan tempat favoritku untuk menghilangkan stres dan beban pekerjaan dengan memandang jauh alam pendesaan di bawah yang hijau dan merekah. Mobil telah terparkir dengan rapi, kemudian kami pun memasuki pintu gerbang barat yang katanya dulu hanya dikhususkan untuk keluarga kerajaan.

“silahkan tuan, mau pesan seperti biasanya ya? Untuk berapa orang?” tanya salah satu penjaga warung yang dari pengamatanku sudah cukup akrap dengan ki sabdo. Usai menjawab pertanyaan itu, kami lantas dipersilahkan oleh penjaga lainnya untuk memasuki pintu gerbang pertama dari arah barat.

Kami bersepuluh dipersilahkan masuk ke dalam gapura dan memasuki salah satu rumah joglo lawas yang saling berhadapan. Kita menunggu di sini sambil menikmati makanan khas dan giliran untuk bisa sowan ke mbah, jelas ki sabdo memulai pembicaraan.

Dari mulut yang terlihat seperti sudah terlatih, sambil menikmati makanan yang datang, keluarlah berbagai kata bijak tentang bagaiaman masyarakat pulau ini seharusnya hidup. Bahwa dasarnya, kehidupan masyarakat ini tidak memerlukan nabi untuk membimbing hidup mereka untuk selalu berbuat baik. Sebab berbuat baik kepada sesama, menurutnya adalah suatu kewajaran yang wajib dilakukan semasa hidup manusia dimanapun dan kapanpun.

Berbagai petuah bijak telah keluar dari mulu orang yang mulai saat itu kami anggap sabagi salah satu guru spiritual yang memiliki tingkat ilmu yang tinggi. Meskipun kami baru sekali ini mengenalnya, menurut pandanganku.

Tapi anehnya, segala ucapan maupun perkataan yang diungkapkan langsung kami iyakan dan sekali lagi menurutku langsung dijadikan pedoman dalam melanjutkan perjalanan hidup ke depan.

Tidak terasa, sekarang sudah waktunya kami harus berganti pakaian yang diwajibkan ketika sowan di makam penguasa itu. Jam sudah menunjuukkan pukul 18.30 WIB ketika diperlihatkan alat komunikasiku ketika aku tekan tombol off.

“di kompleks makan ini, kita dilarang mengeluh maupun mengatakan sesuatu yang tidak wajar. Sebab nanti akan pamali. Dulu pernah ketika bersama seseorang naik melewati tangga, ada keluhan tentang kecapekan. Akibatnya kakinya lumpuh hingga dia meminta ampunan saat kembali ke sini lagi,” jelasnya sambil meminta kami untuk mengikuti langkag kakinya yang telanjang.

Tanpa bersuara, kami lantas berjalan beriringan mengikuti langkah ki sabdo yang lurus ke depan menembus pekat malam. Tak terhitung lagi berapa anak tangga yang harus dilewati saat melewati sekitar empat pintu gapura yang hampir sama bentuknya.

Ditengah malam langit tanpa bintang dan bulan sabit enggan bersinar sampailah kami di puncak bukit. Disanalah kiranya mantan penguasa pulau disemayamkan. Berlindung dalam sebuah rumah tua, dan dikelilingi ratusan makam lainnya.

Makamnya ibarat bulan purnama yang dikeliling ratusan bintang berpijar. Dia adalah benda yang kiranya banyak dipuja dan dihormati, meskipun kondisinya sudah tidak bergerak lagi.

Di sana, di kegelapan ruang yang diterangi sinar remang-remang, ternyata sudah ada sekelompok orang yang memiliki niatan sama dengan kami. Yaitu memuja atau meminta berkah darinya.

Lantas mulailah ritual malam itu dimulai. Ditemani angin yang senangtiasa berhembus di dalam benteng dan bulan yang enggan memberikan sinar, kami mulai melantunkan ayat-ayat suci yang sudah dilantunkan dari berabad lalu oleh masyarakat pulau ini.

Kurang lebih dua jam, kami disiksa dengan duduk bersilah. Akhirnya ritual awal ini pun berakhir dengan perasaan lega yang bagiku rasanya tak terkira. Seperti merasakan kebebasan ketika nanti keluar dari tempat gelap dan dianggap sakral ini.

Pintu utama perlahan dibuka. Satu persatu tamu yang datang dipersilahkan masuk dengan sebelumnya memberikan sembah sujud. Layaknya adat lama ketika abdi dalem menghadap sang raja.

Tibalah giliranku. Detak jantung berguncang hebat karena ini adalah yang pertama kali. Sama seperti kita akan memulai bercinta pertama kalinya dengan orang yang kita sayang.

Sembah hormat aku haturkan dengan tidak lupa meminta ijin memasuki ruang utama. Dari lorong yang sekilas itu, aku dipersilahkan memasuki ruang utama makam yang menurut perkiraanku berada di utara lorong.

Makam itu biasa saja, menurutku, sama dengan makam batu lainnya yang banyak bertebar di sekitar area itu dan kawasan daerah ini. Bedanya, di atas pusara batu hitam itu ratusan kelompak dari berbagai bunga bertabur dan menciptakan kewangian sakral tersendiri. Tidak hanya itu, baik dinding maupun atap makam itu terselimuti kain suci berwarna putih.

Usai menghaturkan apa yang semula menjadi tujuan kami berlima. Akhirnya kami dipersilahkan untuk sembah hormat kembali kepada sebuah tanah bercela yang berada di sisi kiri pusara.

Awalnya aku bertanya untuk apa ini. Meskipun banyak pertanyaan dan hampir pasti ketidak percayaan, tapi sembah hormat itu tetap aku lakukan.

Setelah hidungku dekat dengan tanah, kuhirup udara yang keluar dari cela tanah itu. Aneh wangi merasuki saluran nafaskuhingga ke dalam dadaku. Aku tak percaya.

Kuhirup lagi, hal itu terjadi lagi. Dan untuk terakhir kalinya, wangi yang muncul dari celah tanah itu masih ada dan bertambah kuat serta mengairahkanku. Karena baru pertama kali ini aku menciumnya. Semua harus diakhiri dan aku pun harus keluar dengan cara yang sama ketika masuk tadi.

“di batu pipih inilah, dulu sang penguasa pulau ini bercinta dengan penguasa laut di sisi selatan yang terkenal cantik dan mandraguna itu. Di sini pulalah sebenarnya puncak tertinggi bukit ini, karena ke arah selatan akan terlihat permukaan lautan selatan,” jelas ki sabdo sambil mengajak kami menuruni anak tangga.

Setelah berganti baju, kami pun duduk mengeliling ki sabdo seperti saat kami masuk tadi. Tidak banyak yang aku dengar dan aku perhatikan dalam wejangan yang disampaikannya. Karena aku sudah tidak fokus dan dihati sudah mulai muncul ketidak percayaan lagi.

Tiba-tiba, dia yang merupakan pimpinan dari kami mengajak pulang karena ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan. Dan kami berlima pulang terlebih dahulu meninggalkan kelima orang lainnya mendengar wejangan ki sabdo.

“tadi adalah pengalaman sipiritualku yang mengesankan seumur hidup. Sebab tidak sembarang orang bisa masuk ke makam sana. 40 tahun hidup di sini baru pertama kali aku masuk ke sana,” jelas salah satu dari kami.

Pengalaman hebat karena baru pertama kali masuk makam besar di malam hari, itu memang benar mengesankan. Dan aku tidak pungkiri itu. Namun tidak semua orang bisa masuk. Ehm perlu dipertanyakan lagi.

Dari kantor, aku langsung bergegas pulang. Sebab sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan mereka. Masalah pekerjaan, itu bisa dibicarakan esok hari.

“ini pengalaman spiritual yang tidak bisa kulupakan. Dan kamu tahu, tidak sembarang orang tidak diperkenankan masuk ke dalam makam jika bukan kerabat keturunan sang penguasa,” jelasnku bersemangat menceritakan pengalaman mengesankanku itu.

Istriku pun hanya tertawa. Dia lantas menanyakan tentang tradisi jalan jongkok dari pintu gerbang pertama. Aku kaget, sebab tadi tidak ada ritual semacam itu.

“oh jadi sekarang tradisi itu sudah hilang. Berarti sekarang ritual seperti itu sudah mulai diperdagangkan segelitir orang yang mengaku kerabat keturunan mantan penguasa itu. Beda saat aku sering berkunjung saat sekolah menengah dulu,” kata istriku.

Aku terkejut mendengar perkataannya itu. Dia lantas menceritakan jika hanya masuk ke makam saja ngak usah binggung-binggung mengajak kerabat keturunan sang penguasa. Cukup kakak ipar saja sekarang di kota sebelah untuk mengantarkan.

“bukan berarti rugi memberikan sejumlah uang dalam jumlah yang tidak terlalu kecil kepada mereka. Sebab kamu dan temanmu sudah mendapatkan pengalaman spiritual yang mengesankan,” katanya sambil tersenyum dan meninggalkanku.

Selesai, 10-10-10



KAYSER SOZE

Kepada Desi

Aku selalu bertanya
Hidupku ini untuk apa
Dan jika bermakna, apakah artinya pesan

Perlahan, aku membuka jendela hati
Sekian lama tertutup dan akan berakhir membeku
Hangatnya membuatku semakin tersenyum
Kaupun turut tersenyum

Aku paham
Hadirmu tidak memberi banyak arti
Tapi hadirmu memberiku banyak hati

Dengan cahyamu, kau usap aku
Dengan hangatmu, kau bangunkan aku

Bolehkan aku menyebutmu mentariku
Atau jika kau tidak keberatan
Ijinkan aku memanggilmu istri-ku

Sudah lama tidak kurasakan kehangatan yang penuh cinta ini
Biasanya hanya pelukan tanpa rasa
Hanya sekedar pelukan yang berujung duka

Istriku
Aku ternyata mampu mencintaimu

Istriku
Aku mohon kau jangan tingalkan aku

Istriku
Ku serahkan hidupku untukmu


Mungil, 8/2/11



KAYSER SOZE

Sisi lain Porwada pertama di Indonesia

Berita yang utama, medali berikutnya
Dalam sebuah surat yang dikirimkan untuk putrinya saat menjadi tahanan politik di Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer berpesan agar selalu menjaga kesehatan jiwa dan raga dengan rutin berolahraga. Karena bagaimanapun juga,tanpa adanya kesehatan jiwa dan raga maka apalah artinya kepintaran yang dimiliki seseorang.
Namun sekarang ini kiranya pesan itu tidak akan banyak dilakukan serta dipahami banyak orang. Terlebih lagi di kalangan wartawan yang sedang mengikuti ajang Pekan Olah Raga Wartawan Daerah (Porwada) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY.
Dengan rutinitas pekerjaan yang bisa memakan waktu hingga 24 jam lebih, banyak wartawan tidak terlalu instens untuk berolahraga menjaga kesehatan. Waktu luang kebanyakan dipergunakan untuk berkumpul dengan keluarga karena memang sangat jarang.
Jikapun ada mau berolahraga, itupun dalam kondisi dipaksa agar tetap berkeringat untuk mengeluarkan kalori.
Bagi mereka,selain tetap mengikuti Porwada pekerjaan dan tugasnya mencari serta menyebarkan informasi, berita tetap menjadi nomor satu. Sedangkan untuk medali yang diperebutkan, itu nomor sekian.
Hal itulah yang kiranya terjadi di atletik yang turut diperlombakan khususnya di lari jauh diatas 35 tahun. Subchan Mustafa, salah redaktur Kedaulatan Rakyat rela tidak ikut bertanding, padahal peluang mendali sangat besar karena hanya diikuti tiga peserta.
“Selain kelelahan karena paginya sudah tanding voli, sore ini saya harus piket di kantor. Dan ini tidak bisa ditinggal, biarlah ngak dapat mendali,”jelasnya.
Tidak hanya itu, dengan keterbatasan peserta. Maka hampir kesemua peserta harus merangkap tampil dalam sembilan cabang olah raga yang diperlombakan.
Sehingga bisa dibayangkan, dengan jadwal pertandingan yang sangat padat selama seminggu penuh. Peserta Porwada harus memiliki ketahanan tubuh luar biasa untuk bisa tampil di perlombaan yang diikutinya jika jadwalnya disusun dalam satu hari.
Ini belum lagi dengan, kewajiban untuk menyetorkan berita sesuai target. Betapa mereka harus menyiapkan fisik yang prima dan energi yang besar.
Jadi wajar saja jika banyak wartawan yang memanfaatkan momentum sambil menyelam minum air. Yang berarti selain mengikuti ajang olah raga untuk mencoba meraih prestasi, sekali juga dijadikan sumber berita.
“Karena tidak bisa keliling karena harus tampil seharian penuh, ya otomatis pertandingan voli dan atletik yang tadi diikuti dijadikan berita dab he he he,” jelas Miftahudin, wartawan bidang olah raga Radar Yogja.
Demikian juga dengan wartawan foto, usai berlaga mereka juga turut berlomba dalam mencari gambar terbaik untuk bisa disajikan kepada pembaca di ajang yang sama.
Tidak hanya kalangan wartawan saja yang harus menyetorkan berita, kalangan redaktur yang biasanya berada di kantor juga harus bisa mengedit berita di tengah pertandingan yang tidak bisa ditinggalkan.
Ibnu Taufik, Redaktur Tribune Jogja, harus rela menerima kekalahan keduanya dalam pertandingan bilyar yang tidak bisa ditinggalkan. “Biasa, tadi harus fokus mengedit berita rekan-rekan agar bisa segera dimuat, jadi kosentrasi buyar,” katanya.
Karena kondisi seperti inilah maka dapat dipastikan selama pelaksanaan Porwada yang dimulai Senin (14/2) dan berakhir Minggu (20/2) sore, kita akan menemui berbagai kejadian menarik. Di mana di tengah para rekannya berebut mendali dalam sebuah cabang olah raga, banyak wartawan yang memanfaatkan untuk menulis berita.
Diikuti sekitar 385 wartawan dari satu kota dan empat kabupaten di DIY, Porwada yang baru pertama kali digelar di Indonesia ini selain untuk mencari bibit-bibit atlit dari kalangan wartawan untuk diikutkan dalam Pekan Olah Raga Wartawan Nasional (Porwanas) dua tahun lagi.
Ajang ini juga digunakan sebagai ajang reuni serta kumpul-kumpul awak media yang memang jarang sekali terjadi kecuali peristiwa kematian ataupun pernikahan, itupun tidak semuanya hadir.
“Urusan medali ataupun prestasi, saya pikir itu sesuatu yang dipikirkan belakangan. Karena memang hakekatnya ajang ini memang bertujuan menjadi wadah berkumpul kuli tinta yang memang sehari-hari sangat jarang terjadi,”jelas Sugiarto, wartawan Suara Merdeka, yang juga Ketua Seksi Olah Raga Bilyar.
Karena memang dipergunakan sebagai temu kangen, maka dapat dipastikan dalam setiap pertandingan dapat dipastikan penuh canda dan berbagai cerita ketika mereka masih kumpul bersama, baik di lapangan maupun di sebuah media.
Menariknya, selain penuh dengan rasa canda dan kekeluargaan, serta kewajiban pekerjaan di tengah padatnya jadwal pertandingan. Sportifitas untuk menjadi dan menampilkan kemampuan yang terbaik tetap ditunjukkan para atlit.
Dalam sebuah perbincangan, Janu Rianto, Ketua Sie Wartawan Olah Raga (SIWO) PWI juga Ketua Pelaksana Porwada menyatakan karena baru pertama kali dilaksanakan, diharapkan ajang ini bisa menjadi virus pada daerah lain di Indonesia.
“Harapan terbesar kami, dari ajang olah raga yang diikuti, kalangan wartawan kembali melakukan aktifitas berolah raga di tengah kesibukan yang tinggi. Karena memang olah raga itu sangat penting,”jelasnya.
Diakui dalam pelaksanaan sepekan kemarin, panitia menilai banyak kekurangan namun secara keseluruhan berlangsung dengan sukses. Begitu istimewanya ajang yang bisa mengumpulkan hampir seluruh wartawan di DIY. Dalam upacara pembukaan, jawaban “Salam Olah Raga” yang seharusnya dijawab dengan “Jaya” diganti dengan “Istimewa”.


KAYSER SOZE

Rabu, 23 Februari 2011

Di tengah hujan

Lihatlah kawan hujan di malam ini
Jangan rasakan dingin menusuk
Tidak usah pedulikan, basah menyergap
Atau langit kelam tanpa bintang

Kawan...
Di tengah hujan kau bisa rasakan keindahan
Saat ribuan jarum hujan menembus kulit
Meninggalkan pedih di mata hati
Tentu saja, kita akan kehilangan sedih dan lara hati

Layaknya anak kecil
Kita bisa bergembira bermain hujan
Meskipun sendiri tanpa teman
Bebas menjelajah arah
Meski tanpa kompas sebagai panutan

Karena di tengah hujan
Kita sangat yakin akan banyak kawan
Yang akan turut bergembira
Tertawa
Bersuka
Dan berbagi
Walaupun ini sudah malam

Sekali lagi kawan
Jika kau memang tidak ingin berhujan
Kau pun bisa rasakan kedatangan hujan di terasmu

Sederhana saja. Nikmati bising hujan di atas atap seng

Jika kau bertanya
Dengan apa aku menikmati hujan di malam hari
Aku hanya bisa menjawab singkat

Dengan bermain dengan hujan dan mendengarkan musik yang diciptakannya

Rumahku,22-2-2011


KAYSER SOZE

Kamis, 17 Februari 2011

Sang pembakar

Ibarat matahari, aku yang paling jahat.
Jika matahari selama ini dikenal menghidupi dunia dengan penuh kehangatan.
Tidak dengan aku.
Aku memberi sinar kehancuran serta kesakitan bagi orang lain.
Sedang aku, sudah tidak peduli lagi.
Akan terus berlari seperti Sang Jalan untuk menghilangkan pedih dan perih.
Dan di ujung jalan aku akan menghilang tanpa perlu ditanya lagi.
Tidak peduli, meski itu menyakitkan hati.



KAYSER SOZE

Menjadi pemenang itu mudah

Bagaimana rasanya menjadi pemenang? jika diantara kita yang hingga sekarang ini belum pernah menjadi pemenang dalam hal apapun, rasanya untuk menceritakan perasaan menjadi pemenang adalah hal mustahil yang bisa dilakukan. Paling banter adalah mencoba menceritakan kembali ekspresi kemenangan yang sering kali hanya bisa dilihat di televisi maupun foto di koran yang dijadikan hiasan kamar kepada mereka yang memang dengan terpaksa mendengarkan karena tidak adanya bahan pembicaraan lainnya. Itupun sudah sering diutarakan berulang kali sehingga bisa ditebak arah ceritanya.
Jika kalian adalah bagian dari orang yang sudah saya sebutkan diatas, maka berbahagialah bila sekarang ini kalian kami sebut dengan nama pencundang! Karena selain tidak bisa meraih kemenangan yang bisa membanggakan diri maupun orang lain, kalian malah berkoar-koar dan bermulut besar menceritakan kemenangan orang lain.
Bukannya aku congkak atau kata orang awam sombong dan besar kepala. Tapi dalam tulisan yang kususun ini, aku pingin menceritakaan tentang perasaan menjadi pemenang meskipun hanya juara tiga.
Tentu saja, perasaan pertama kali yang muncul adalah perasaan bahagia telah mengalahkan pihak lawan. Itu tandanya kita atau sebut saja saya adalah orang yang berjenis memiliki keunggulan, talenta, dan kemauan yang lebih keras dan besar dibandingkan dengan lawan yang saya hadapi. Dan dengan kemenangan yang berhasil saya raih, maka dapat dipastikan saya akan mendapatkan perhatian lebih dari orang lain dan itu merupakan kehormatan yang pantas diperoleh seorang pemenang.
Inilah gambaran perasaan menjadi pemenang. Padahal kemenangan yang saya raih tidaklah besar, berhasil menjadi juara tiga dalam pertandingan futsal antar profesi yang digelar hari ini. Tetapi dengan tegas saya katakan bahwa itu membuat saya bangga.
Coba bayangkan bagaimana bahagianya menjadi pemenang dalam kelas yang paling rendah itu. Ini belum lagi saat kita berhasil menjadi pemenang di tingkat yang lebih tinggi atau dunia. Bisa dibayangkan, saat mengenggam medali kejuaraan dunia, semua orang tidak ada artinya dan hanya kita yang layak mereka agung-agungkan.
Apakah sekarang anda tertarik untuk menjadi seorang pemenang?
Terus terang menjadi pemenang itu sangatlah mudah. Tidak saja di bidang olah raga saja, kita juga bisa menjadi pemenang di pekerjaan yang sekarang ini kita lakukan. Jika ada memang berkinginan kuat menjadi pemenang, modal utama yang harus kalian miliki dahulu adalah semangat serta niat untuk menjadi yang lebih baik dibandingkan yang lain.
Tentu saja, modal lainnya yang dibutuhkan nantinya tidak hanya semangat dan niat saja, namun kerja keras, kemauan, dan kerja sama dalam tim merupakan modal besar yang sangat dibutuhkan dalam meraih kemenangan. Selain itu, belajar cepat dari banyaknya kesalahaan dan segera melakukan perbaikan juga wajib diperlukan. Karena saya yakin, jika kita tidak segera belajar dari kesalahaan dan kekalahaan kita tidak akan pernah bangkit untuk mengejar kembali kemenangan itu.
Satu lagi, agar bisa merasakan hakekat kemenangan yang kita raih dan menjadi kenangan besar dalam siklus hidup kita. Yang perlu juga dilakukan adalah merasakan juga kekalahaan yang pernah kita rasakan.
Tidak terus meratapi kekalahaan. Karena saya juga pernah dan seringkali merasakan kekalahaan, karena itu kekalahaan juga merupakan modal besar karena itu dibutuhkan sebagai empati kepada kawan kita yang kalah saat kita menjadi pemenang.
Terakhir kawan, dalam mengejar kemenangan jangan pernah menyerah, ragu dalam mengambil tindakan, serta teruslah belajar. Karena kemenangan hanya bisa diraih dengan usaha, sisanya hanyalah sekedar doa. Prinsipnya, mengejar kemenangan dalam hidup adalah hakaket hidup sesungguhnya.
Kejarlah terus kemenangan itu, karena dia hanya berjarak 3 cm di depanmu. Salam.


KAYSER SOZE

Minggu, 06 Februari 2011

Kalangwan

Istirahat sejenak di pagi hari usai olahraga lari, sebuah buku tebal yang tergeletak di lemari bedak istri menyita perhatianku. Buku karya Zoetmulder, Guru Besar Sastra Jawa Unoversitas Gajah Mada yang tertera dicetak pada 1973 diberi judul “Kalangwan”.
Sepintas terlintas pertanyaan apa yang dimaksud dengan orang Belanda dengan memberi judul buku yang ditulisnya dengan bahasa aneh yang mungkin hingga sekarang ini sangat jarang didengar kalangan masyarakat umum.
Satu-satu persatu halaman buku yang aslinya ditulis dalam bahasa Belanda itu dan menjadi pegangan wajib mahasiswa Sastra Jawa dimanapun terbuka dan aku pun terhanyut dalam ribuan kata yang tertera. Kalangwan, satu kata baru yang merasuki otakku dan terus-menerus mencari artinya.
Tidak susah memang untuk menemukan arti kata baru itu, yang ternyata oleh Zoetmulder pengertian Kalangwan itu ditempatkan di awal bab pertama dan langsung bisa dipahami oleh pembaca bukunya.
Kalangwan, adalah salah satu kosakata dalam bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti “Keindahan”. Sedikit tambahan, menurut istriku, yang nota bene pemilik buku itu, Kalangwan itu berasal dari kata dasar Lange, yang artinya indah.
Menarik apa yang akan disajikan dalam buku yang memiliki sekitar 12 bab itu. Menurut Zoetmulder, kalangwan itu adalah kosakata yang ditujukan pada hasil sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam aksara Jawa yang beberapa masih bisa ditemui hingga sekarang.
Bagi Zoetmulder, karya sastra dari sentra kebudayaan Indonesia ini sangatlah menarik dan unik. Bahkan bila ditilik dari isi serta pesan yang disampaikan dalam sastra itu, kita bisa belajar dengan berbagai hakekat kehidupan manusia dan cara-cara mengatasi permasalahaan kehidupan yang terkadang membuat kita kebinggungan.
Bahkan menurut istriku yang sudah tamat mempelajari buku ratusan halaman itu, dalam beberapa bab juga diungkapkan berbagai ramalan jaman yang akan terjadi di Indonesia.
Hingga aku membuat tulisan ini, terus terang yang menjadi pertanyaanku hingga sekarang ini, kenapa harus mesti orang luar yang peduli dan berpikir untuk melakukan penelitian terhadap bahasa yang sehari-hari digunakan oleh sebagao bear penduduk Jawa. Bahkan orang yang bukan asli Indonesia itu mampu menyajikan hasil karyanya dengan sangat menarik dan memikat pembaca untuk tidak bosan menyelesaikan bacaan itu.
Lantas, kemana sekarang larinya para akademisi-akademisi yang serupa dengan Zoetmulder. Boleh saja, universitas membanggakan akan lulusan terbaik yang bisa dihasilkan dalam sastra Jawa. Namun masyarakat kiranya menunggu hasil yang pasti akan kelestarian bahasa Ibu kita yang sekarang ini kondisinya memprihatikan.
Coba perhatian lingkungan sekitar kita saja, sastra Jawa atau apapun yang menyangkut tentang Jawa, coba ditinggalkan dan tergantikan dengan bahasa baru yang nyatanya keluar dari pakem aslinya.
Terus terang, studi tentang Bahasa Jawa awalnya menjadi minat khususku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Alasanku Cuma satu, yaitu agar bisa pergi ke Belanda guna bisa belajar dan mengambil kembali apa yang sudah mereka rampas selama 350 tahun yang lalu.
Ya meskipun cita-cita tidak kesampian, namun Tuhan sudah menentukan jalanku yang lain. Aku mendapatkan istri yang dulu menempuh studi itu, sehingga aku bisa belajar banyak tentang Kebudayaan Sastra Jawa yang seumur hidupku tidak pernah terangkum dengan jelas dalam pendidikanku.


KAYSER SOZE

Senin, 17 Januari 2011

Aku dulu pernah korupsi

Perkenalkan namaku Kukuh. 2011 ini aku memasuki umur yang ke-30 dan belum memiliki anak dari satu istri tercinta. Terkait pekerjaan, aku sekarang berada di posisi pemasaran sebuah surat kabar lokal yang namanya cukup dikenal di DIY.
Aku yakin kalian bertanya kenapa aku membuat awal tulisan dengan cara mengenalkan diri dahulu. Dan aku pastikan kalian yang baru saja membaca tulisan ini, tepatnya di alenia kedua, pasti bertanya apa tujuanku membuat tulisan ini.
Lima menit yang lalu, sebelum aku membuka komputerku, aku berpikir tentang kondisi negeri yang kita cintai dalam satu tahun terakhir.
Dari berbagai fakta yang ada, negeri ini semakin sakit saja. Tentu saja, sakit itu tidak disebabkan oleh bangsa lain yang dulu pernah dialami orang-orang yang mendahului kita atau meskipun sekarang dalam hidup tapi memasuki usia senja.
Sakit itu disebabkan tingkah laku dan tindakan bangsa kita sendiri yang sudah tidak punya moral dan malu yang dulu pernah diajarkan di meja makan oleh orang tuanya.
Di negeri yang indah ini, kata orang adalah jamrud khatulistiwa, orang-orang kita, terutama yang memiliki akses kepada uang rakyat sudah tidak memiliki niat untuk berbuat jujur seperti yang disumpahkan saat mereka dilantik.
Lihat saja, hukum yang senyata-nyata adalah jalan utama meraih keadilan bagi manusia dengan enaknya dilanggara dan malan dizholimi. Mereka para penjahat, kita sebut saja demikian, bahkan mampu membeli kalangan pejabat yang memiliki hak memegang senjata untuk menegakkan hukum agar tidak tersentuh lagi.
Bahkan bisa dikatakan, di negeri indah ini sudah sejak lama muncul kebudayaan baru yang kita sebut saja “Korupsi Akut” dan kiranya kalangan pejabat yang menamakan diri wakil dan pemimpin rakyat ini tidak mau merubah kondisi ini.
Asalkan semua orang yang pernah berjasa dan berada di dekatnya aman serta nyaman. Keluarganya hidup lebih dari cuku. Meskipun tetangga belakang rumahnya dan anak-anak yang layaknya mereka sebut cucu berkeliaran di jalan dengan kepala kosong tanpa pendidikan. Mereka tetap tidak peduli dan mau mengerti.
Yang penting perutku kenyang, yang penting aku mendapat kehormatan akan harta dan martabat yang kudapat, dan yang penting lainnya lagi. Begitu kata hati dan pola pikir mereka, para koruptur yang mengotori negara.
Bicara tentang korupsi. Aku ingin menceritakan sedikit pengalamanku kepada kalian sahabat yang masih setiap membaca buah pikiranku ini.
Cerita ini mungkin terlalu basi bagi kalian. Namun percayalah, aku dulu pernah korupsi. Ya korupsi seperti mereka yang sekarang ini mengaku pemegang kekuasaan dan amanat rakyat.
Dulu, ayah mendidik aku dan saudara laki-laki seperti orang lain dan wajib bekerja padanya. Ayahku bukan pengusaha besar, dia hanya memiliki usaha tambal ban. Tapi dari sanalah memang kami berasal dan inilah modal kami untuk mencapai cita-cita yang lebih besar.
Kami terpaksa bekerja pada bapak, karena kami memang tidak pernah mendapat uang jatah atau uang saku harian layaknya anak-anak yang lain. Kami harus bekerja usai pulang sekolah agar kami bisa mendapatkan sedikit uang sisa hasil setoran guna bisa kami gunakan untuk berangkat sekolah esok harinya.
Dari sinilah, kami mulai mengenal uang lebih dekat dibandingkan kawan kami lainnya. Kami mampu mencari lebih banyak dari mereka dengan bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. dan kami, atau saya tepatnya mampu mencicipi banyak hal yang saat itu belum banyak kawan-kawan bisa rasakan.
Makanan enak, pakaian baru, sepatu baru, mabuk, judi, dan pergi sendiri ke berbagai kota sudah aku lakukan dengan hanya menabungkan sedikit uang harian. Bahkan semakin banyak yang bisa aku lakukan, maka semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Benar begitukan bila kita mempergunakan logika.
Namun apa daya, seperti kata pepatah, besar pasak daripada tiang. Maka pendapatan harian semakin lama semakin tidak mampu mencukupi apa yang menjadi keinginan dan aku anggap kebutuhan itu. Untuk meminta aku tidak berdaya, dan bahkan dengan kepelitannya walaupun aku harus menangis darah, tidak bakalan uang di kantongnya berpindah ke tanganku.
Sekarang kamu tahu apa yang aku lakukan. Dengan besarnya kebutuhan, maka aku harus membesarkan pula pendapatanku. Maka satu-satunya jalan yang harus aku tempuh adalah dengan mencuri uang setorang harian untuk aku sembunyikan.
Aku tidak mengerti apa nama kerennya sekarang yang aku tahu tindakanku itu termasuk dalam keluarga besar korupsi. Dulu aku menyebutnya “Kantong Setan”. Menarik bukan.

Metodenya mencurinya sangat. Jika satu hari aku mendapatkan penghasilan Rp10.000 dari “pasien”, kami menyebut konsumen seperti itu karena kami adalah penambal ban paling ampuh. Maka sekitar Rp2000-Rp3000 akan kami selipkan di kantong kami lainnya. Baru sisanya itu aku setorkan ke bapak dan aku biasanya mendapatkan hasil bersih antara 20-30%.
Dari kantong setan inilah, aku mampu menabung dan aku pergunakan membeli keinginan yang aku jadikan kebutuhan.
Tapi, anehnya entah berapa besar dana yang aku dapatkan dari kantong setan tidak pernah aku menemukan adanya sisa. Bahkan barang-barang yang kubeli dari anggaran gelap itu malah lebih cepat rusak atau bahkan hilang bila dibandingkan dengan barang yang kubeli dengan uang halal.
Tidak hanya itu, akibat terlalu sering melakukkan aksi kantong setan. Maka aku setiap hari harus melakukan ketidakjujuran kepada konsumen yang datang agar aku mendapatkan ongkos yang lebih besar dibandingkan harga normal.
Terus terang, ini akan membuat nama bengkelku tercemar dan tidak dipercaya. Karena masih sekolah, aku anggap hal itu wajar dan tidak akan termasuk dalam kejahatan karena itu adalah milik orang tua.
Ternyata aku baru sadar ketika aku lulus sekolah dan harus mencari kerja untuk segera berpisah dengan orang tua. Kebiasaan itu jika aku bawa ke dunia baruku akan semakin memperburuk keadaanku. Bahkan jika nanti aku melanjutkan ke bangku kuliah, bisa jadi aku tidak akan pernah pulang membawa gelar.
Yang aku pastikan, disaat aku mulai bekerja pada orang lain, perbuatan kantong setan itu tidak akan pernah aku lakukan kembali meskipun saat itu aku tidak punya uang untuk makan.
Aku sadar apabila kita terus-menerus mempraktekkan kantong setang, jika ketahuan maka kita adalah penjahat dan tidak akan mendapatkan lagi kepercayaan dari orang lain. Tidak hanya disekitar kita, tapi semua orang akan tahu meskipun kita tidak kenal mereka karena informasi antar pengusaha dan orang kaya secepat kilat.
Terus terang, gelar yang aku dapatkan ini adalah jerih usahaku untuk terus melakukan kejujuran. Soal makan kita bisa mengutang. Soal pakaian kita bisa menunda.
Tapi soal kejujuran yang bersangkut paut dengan harga diri, ini adalah prioritasku.
Jadi sama dengan para koruptor sekarang. Dulu aku juga pernah korupsi dan tidak akan pernah aku lakukan lagi seumur hidupku. Aku sudah berani berubah dan tobat, karena ini bukan menyangkut aku sendiri.
Sekarang aku bertanya, beranikah kalian para koruptor bertobat dan memilih jalan kesederhanaan untuk mendapatkan hati yang penuh dengan kejujuran.
Salam.

KAYSER SOZE

Rabu, 12 Januari 2011

Hidup Revolusi Negeri Ini

Apa yang Kawan pikirkan sekarang?

Coba sekarang Kawan lihat kenyataan yang ada. Negeri yang kaya dan makmur ini sudah tidak bermartabat lagi. Di era yang katanya sudah maju dan memiliki kepatuhan aturan, hukum ternyata sudah tidak berlaku.

Jangan bicara tentang cita-cita dasar pendiri negeri ini yang selalu ingin rakyatnya sejahtera, aman, dan bermartabat. Di tangan pemimpin laknat yang dipilih langsung oleh rakyat di atas janji-janji manisnya. Negeri yang kita banggakan ini semakin terjerumus dalam lobang hitam besar kehancuran.

Rakyat bukan lagi pemilik negeri ini. Rakyat bukan lagi penuntut hukum yang juga bisa mengadili penjahat-penjahat yang berasal dari penjabat. Dan rakyat negeri ini bukan lagi penikmat kekayaan alam yang sejatinya bisa menjadikan mereka lebih maju dari negara lain.

Di tapi di tangan pemimpin ini dan dedekot-dedekot keparatnya, negeri ini akan dijadikan ajang unjuk kebolehan serta kelihaian memperkaya diri. Tentu saja Bung, bukan kaya akan kerja keras dan semangat berkorban.

Silahkan Kawan baca koran, majalah. Dengarkan radio serta amati setiap saat televisi yang ada di ruang keluarga Bung. Semua akan memberitakan aksi-aksi bejat aparat keparat yang tidak lagi menghormati hukum.

Hukum diinjak-diinjak dan dengan mudah diperjual belikan. Keadilan hanya milik orang-orang yang memiliki harta laksana raja. Aparat? Apa yang Bung katakan, mereka seiya sekata.

Bukannya sebagai pelindung, pengayom, penegak keadilan, pembela negara, atau apapun namanya, sekarang mereka lebih memilih harta meskipun sumpah serapah diucapkan kepadanya.

Sedangkan rakyat jelata yang selalu berada di belakang mereka, senangtiasa selalu dijadikan korban dan tentu saja, sapi perahan.

Kawan, aku berani ambil kesimpulan, kondisi ini secara garis besar disebabkan budaya korupsi di segala lini yang sudah ada sejak negeri ini baru 35 tahun merdeka. Pemimpin dan antek-anteknya masa itu bisa dikatakan sama dengan pemimpin yang memimpin sekarang.

Ibarat buah, dia tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Kawan, jika kau peduli dengan negeri ini. Sekarang tidak lagi hanya diam serta ikut arus yang semakin lama semakin tidak berbekas. Walaupun kecil, tapi apa yang kita lakukan demi negara ini akan selalu dikenang.

Tidak hanya dengan bertindak secara tegas, semua tindakan atau tulisan akan selalu diterima. Jangan hanya duduk diam saja Bung. Atau hanya mengutuk mereka yang memang tidak becus mengurus negara. Sekarang sudah saatnya revolusi besar harus dilakukan bersama.

Ayo Kawan!!

Tunjukkan kepedulianmu terhadap negeri ini. Mari bersama-sama kita semangatkan lagi rakyat untuk tidak selalu menerima keadaan ini. Karena hanya kita yang bisa menentukan arah negara ini. Bukan mereka yang hanya sesaat di tampuk kekuasaan.

Kawan, senangtiasa aku katakan. Revolusi selalu bermula dari kaum muda yang peduli dengan negeri ini. Baik di jaman kolonialisme, orde lama, orde baru, atau reformasi, perubahaan selalu diawali dari kita anak-anak muda yang tidak terima negeri ini terus dijajah bangsa sendiri.

Kawan, memang semua berat untuk dilakukan. Terlebih lagi kita hidup di jaman yang serba manja dan tersediakan. Terus terang, dalam hidup kalian tidak pernah mengenal hidup penuh kerja keras dan berjuang dengan segala daya serta upaya.

Kalian adalah manusia-manusia yang selalu hidup dengan gaya.

Ayo kawan, apa yang kau pikirkan sekarang?

Kau akan terus sabar dan tenang sementara negara seberang menertawakan serta terus-menerus mempermalukan kita. Jangan pernah berharap kepada aparat. Sebab di dada mereka sekarang bukan tertulis nama rakyat. Namun sudah terpatri kata harta dan kepentingan yang bisa membahagiakan serta menyenangkan mereka.

Ingat kawan, kita hanya hidup sekali. Karena itulah jadikan hidupmu penuh dengan arti.

Kawan, aku janjikan ini hanya sebagai awal perlawanan kita yang selalu akan mengatas namakan rakyat. Hidup Revolusi Negeri Ini!!!!


KAYSER SOZE

Kamis, 06 Januari 2011

KAWAN

Kawan, apa kabar?

Terus terang aku kesulitan menemukan kata selanjutnya. Aku tidak tahu harus menyatakan apa setelah menanyakan kabarmu.

Aku tahu, seharusnya memang mudah untuk menyambung dengan kata lain. Semisal dimanakan sekarang kamu, sudah menikahkah dirimu, atau sakitkan kamu sekarang? Tapi kata itu, yang selama ini berkecamuk di otakku sama sekali tidak terlintas untuk dikeluarkan.

Aku paham, aku bukanlah Pramoedya, Asrul Sani, Sanusi Pane, atau Chairil yang mampu merangkai berbagai kata dan ucapan dalam satu kalimat indah yang membuat mata kita tidak akan pernah lelah untuk terus membaca karya mereka.

Aku juga bukan Bung Rosihan, Gonawan, maupun Ainun. Yang mampu merangkai fakta, opini, dan canda menjadi satu struktur kata untuk menghasilkan tulisan yang mudah dicerna serta langsung mengena.

Yang selama ini aku paham, aku hanya terus mencoba belajar menulis dan berkarya. Sekedar untuk mengisi waktu luang dan menuangka segala ide di kepala. Jika kau sebut aku penganggur dan kurang pekerjaan sehingga menulis rangkaian kata ini, aku terima dengan suka cita.

Kawan, usai kutanyakan kabarmu, aku hanya ingin bercerita sedikit tentang kabarmu. Pasti engkau tahu, jika sudah saatnya lelaki tidak ingin dikekang, dia pasti pergi dari rumah. Entah dengan benda yang melekat maupun kenekatan. Yang pasti, pergi untuk mencari kebebasan serta pengalaman hidup juga aku lakukan.

Jalanku, kurasa tidak pernah panjang. Hanya setengah-tengah dan terus terang, aku akui sangat nanggung untuk aku ceritakan sebagai pengalaman. Tapi aku yakin, jika terus membaca dan mencerna, aku pastikan kau akan merasa nikmat atau hanya sekedar nyaman. Aku akan sangat menghargai itu.

Kawan. Aku hidup di dunia dunia. Laksana katak dan ular atau hewan aphimbi lainnya. Aku menloncat ke dua malam akademik setelah seharian menghabiskan tenaga untuk sesuap nasi dan tabungan. Semua kulakukan dengan rela dan tanpa pernah merasa bersalah menghabiskan masa muda untuk dua dunia yang banyak orang katakan tidak akan pernah bisa bersatu.

Aku menikmatinya. Aku merasa bisa hidup di dalamnya. Dan aku merasa diterima lingkungan meskipun harus hidup di dunia dunia.

Jangan pernah bicara tentang kesenangan dan belanja atau cara instan mendapatkan gelar. Bagiku itu tabu dan tidak terhormat sebagai soerang manusia sosial yang tumbuh berkembang dengan jaman. Aku memulainya dari nol dan menjadi besar, karena aku sangat yakin langkah kecil ini akan menjadi awal sebuah langkah yang besar.

Kau mungkin bertanya, tidak frustasikan aku dengan hidupku. Dua dunia yang tidak mungkin bersatu, bagi sebagian orang, dan aku dipaksa hidup di dalamnya.

Kawan yang seharusnya kita pastikan dulu harfiah dari frustasi yang kebanyakan dialami teman-teman sebayak kita atau orang yang memiliki lebih usia dibandingkan kita. Jika kau berada di sebuah ngarai jurang, dimana satu sisi adalah harapan hidupmu dan di sisi yang lain adalah kenyataan yang kau terima sekarang.

Itulah yang kumaksudkan dengan frustasi kawan. Kau tidak bisa membuat jembatan antara harapan dan kenyataan yang ada. Bukannya kau tidak mampu membuat sebuah jembatan, tapi karena tidak ada niat dan kemauan, jembatan antara harapan dan kenyataan itu tidak pernah ada.

Bagiku, untuk bisa dengan mudahnya membangun jembatan antara harapan dan kenyataan. Terlebih dahulu kita harus membuat sisi jurang yang lain sama-sama rendah dan tidak menciptkan palung yang terlalu dan dalam menyebabkan lebar.

Jika sudah tidak membahayakan bagimu, maka jalinlah sebuah tali, ingat sebuah tali, dan kemudian pilinlah tali lainya satu persatu sesuai dengan kemampuan dan kerja keras kita. Lakukan perlahan-lahan dan tidak usah terlalu sering-sering memanjatkan sebuah doa.

Sebab jembatan yang kita buat itu, adalah 99% kerja keras kita dan 1%-nya hanyalah sekedar keberuntungan. Inilah falsafat sebenarnya kehidupan kawan.

Satu lagi ceritaku, jika tengah malam aku terlalu sering membayangkan, memimpikan wajah seroang gadis. Yang bila kau pikirkan dan melihat secara langsung, kau pasti akan mengatakan mudah mendapatkannya.

Tapi ingat kawan, aku hidup di dua dunia. Kesenangan hanya sesaat, yang ada hanyalah kerja keras dan terus kerja keras. Jadilah kiranya aku ibarat punguk merindukan bulan. Jangan kau menangis kawan, sebab inilah pelajaran hidup yang harus diterima setiap pria ketika dia pertama kali berkenalan dengan cinta.

Kawan, jika kau lihat tepi sungai itu, disanalah aku tumbuh dabn memilih tali untuk membangun jembatan antara harapan dan kenyataan. Di sanalah kawan, aku pernah merasakan sakit, sedih, lapar, kenyang, dan caci maki yang terkadang mendesakku mengeluarkan air mata, tapi selalu kutahan.

Di tepi kali keruh itulah kawan, aku mengakhiri kehidupan dua duniaku. Aku yakinkan, bahwa sudah saatnya aku pulang ke rumah untuk sekedar beristirahat dan menenangkan raga.

Tapi kawan, meskipun raga sudah istirahat, tapi jiwa dan pikiranku kacau balau serta sibuk menghilangkan berbagai kenangan indah akan cinta. Ya sebuah cinta yang kutinggal jauh di sana. Dengan tatapan sedih tanpa cucuran air mata, karena aku tidak sempat melihatnya.

Kawan, apakah kau jenuh mendengar ceritaku ini. Pahamlah kawan, jika kau memang jenuh membaca, sebentar saja rebahkan badanmu dan lemaskan ototmu. Jangan lupa, tetap jaga matamu agar tetap tidak tertidur.

Sekarang kau ingin mendengar cerita yang mana dariku kawan? Aku mohon jangan minta aku bercerita tentang cinta. Aku tidak mampu menceritakan cerita tentang cinta, sebab aku memang dari dahulu aku tidak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya.

Maafkan aku sayang, kau tahu, dirimu masih tetap ada di hatiku dan mengisi sepanjang hidupku meskipun tidak bersama lagi.

Kawan sudah berapa lama aku bercerita? Sudah bosankah kamu atau tidak mau memabaca kembali apa yang sudah kutuliskan untukmu.

Aku sadar, meskipun banyak karya yang kubumbukan. Tapi untuk sekedar menulis indah, dalam merangkai kata dari fakta dan imajinasi. Aku selalu kalah. Aku selalu tidak mampu merangkainya.

Kawan, jika kau paham, kita selalu tidak bisa menulis dengan indah bukan. Jika kau rela, biarkan aku tenggelam dalam kamar hitam yang selalu menjadi idamanku. Salam. 02/1/2011





KAYSER SOZE

Selasa, 04 Januari 2011

"2011"

"2011"
Selisih satu tahun dari judul film yang menghebohkan negera kita, bahkan beberapa wilayah mengharamkan penduduknya menonton film fiksi yang diadaptasi dari ide budaya maya. Tahun ini, bagi orang china tahun kelinci yang selalu dipercaya banyak rejeki yang datang. tapi bagiku, sama seperti tahun yang telah berlalu, aku menerapkan berbagai harapan serta impian akan hidup yang lebih baik dibandingkan yang tlah berlalu. aku yakin, aku bisa meskipun pada beberapa kenyataan, semua hanya omong kosong dan tidak pernah terwujudkan.

Tahun ini, semua akan kuwujudkan dalam kenyataan dan segera bisa disampaikan. Entah kepada kawan, dunia, atau sekedar maya belaka. salam

KAYSER SOZE