Pemerhati-ku

Senin, 25 Juni 2012

Jangan tidak kreatif

“Jangan tidak kreatif”, sebaris kata yang aku sering aku baca tertempel pada pintu masuk ruang kerja kenalanku. Memang kami tidak terlalu lama berkenalan denganya, namun hubungan dan cara menyampaikan pendapat kami sama-sama mengerti dan akhirnya saling memahami. Artinya kit sekarang menjadi dekat, tidak hanya dalam hubungan pekerjaan namun juga yang lainnya. Bagaimana sekarang menjadi kreatif? Di tengah rutinitas pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya dan diharuskan mendapatkan penyelesaian dalam sekejap, kiranya kreatifitas hanya slogan saja yang kebanyakan hanya diucapkan pemimpin pada anak buahnya. Inilah kebodohan yang sering terjadi, pemimpin yang tidak tahu lapangan selalu merasa bahwa dia berkuasa dan selalu benar. Dianggapnya setiap langkah yang diambilnya adalah yang terbaik demia kemajuan organisasi. Namun sesungguhnya tidak memiliki nurani. Tapi apakah kita memiliki nurani, dan tidak menghasilkan kratif. Malam ini aku ingin mengumpat. Pada kondisi diri dan psikologis yang tidak terlalu stabil. Entah karena hati atau kondisi. Tapi ini kenyataan yang harus aku jalani. Maaf jika judul yang aku cantumkan diatas tidak ada hubungan sama sekali dengan apa yang aku tuliskan sekarang. Namun aku yakin engkau akan memahami apa yang ingin aku sampaikan. Pada malam ini semua hal tidak menyenangkan bagiku. Jangan tidak kreatif, akan menjadi kata kunci untuk menentukan langkah selanjutnya bagi pribadiku untuk meraih masa depan. Bukan tenaga kuda yang kita butuhkan untuk bekerja menghasilkan pendapatkan, tapi pikiran dan beragam pola pikir muncul dari otak kita terkadang menghasilkan pendapatan yang kita inginkan. Tidak hanya dituntut untuk terus berinovasi dalam menghasilkan karya, tapi sebuah pilihan pada niat akan menuntut kita untuk melakukannya. Jika hanya dibayangkan saja, semua pekerjaan dan impian kita sangatlah berat untuk diraihnya. Tapi dengan sebuah langkah kecil untuk permulaan memulai, semua akan berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Tanpa bisa ditolak, hanya bisa didoakan supaya tetap selamat. Apa yang tidak kurasakan dalam jiwa ini, kesakitan, kepedihan, kejengkelan, kemarahan, dan rasa empati semua bercampur aduk. Terkadang semua menghasilkan sebuah pemikiran baru yang jika dijalankan akan menghasilkan sesuatu yang indah. Tapi semua hanya konsep di otak dan disampaikan lewat mulut, tanpa ada bukti serta perjalanan. Nenas, mengajarkan aku tentang arti hidup yang sederhana. Menangis dan tertawa adalah dua sisi mata uang kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Kesedihan akan selalu datang dan kebahagiaan akan turut hadir. Tapi setelah dewasa, kesedihan tidak cukup hanya dibayar dengan neneng milik ibu dan kebahagiaan tidak selalu KAYSER SOZE

Jumat, 16 Maret 2012

Plagiator

Plagiator

Memulai penulisan dengan satu kata yang selalu diingatkan seorang guru ternyata sulit untuk tetap diteruskan. “Plagiator”. Satu kata, namun artinya begitu menyakitkan ketika ditujukan pada seorang sahabat yang memiliki profesi yang sama dengan saya.
Dalam dunia tulis menulis yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan hidup, kata yang saya katakan diatas memang haram hukumnya ketika dilakukan. Berawal dari kata “plagiat”, yang di kamus Bahasa Indonesia berarti meniru, mencontoh, atau menulis ulang karya orang lain tanpa merubah bentuk dan diakui hasil karya sendiri. Plagiat ini ternyata sudah menjadi kebudayaan kita di negeri yang penuh ironi ini.
Bukan menjelekan kondisi negeri kita yang katanya makmur ini. Namun dengan banyaknya kebudayaan yang menjadi aset negeri. Ternyata masih ada juga aset kebudayaan yang semestinya kita hilangkan. Salah satunya adalah korupsi yang sudah seperti urat nadi, tidak hanya di aparat atau pejabat, namun juga kepada masyrakat yang menginginkan hasil kerja besar tanpa kerja keras.
Plagiat ternyata juga sudah menjadi kebudayaan yang secara tidak langsung ternyata begitu tumbuh subur pada kalangan penerus bangsa. Percaya atau tidak, dengan semakin terbukanya serta kekebasan informasi dan komunikasi, budaya plagiat ternyata mendapat tempat dan sudah memasuki eranya.
Menulis dengan berbaring di depan televisi yang mati ini, aku teringat ketika masa kuliah dulu. Secara umum, meskipun sudah jaman komputer, yang artinya dengan begitu mudahnya mendapatkan berbagai informasi, literatur, serta berbagai bahan yang dibutuhkan untuk kuliah. Namun dalam penyajiannya, kami diminta untuk tidak dengan mudah melakukannya. Minimal sedikit kerja keras yang nantinya akan menghasilkan dampak positif.
Apapun dan dari manapun bahan yang dipakai tidak akan menjadi masalah, tentu saja dengan diberi catatan kaki. Namun bahan itu akan menjadi masalah ketika dalam membuat laporan tugas tidak dalam format mesin ketik lama. Bukan komputer. Bayangkan betapa melelahkan.
Selain memiliki keybord yang cukup membutuhkan tenaga di jari untuk bisa menghasilkan huruf, suara yang dihasilkan juga menjadi salah satu faktor betapa melakukan hal itu sangat melelahkan. Ini belum salah ketiki, ah menjengkelkan mungkin bagi banyak pemikiran sekarang ini.
Membutuhkan waktu memang, karena dengan mesin ketik lawas itu ketika diajarkan untuk bersabar dalam melakukan sebuah pekerjaan dan tentu saja ketelitian serta keakuratan agar luput dari banyak kesalahan. Namun inti yang saya sampaikan di sini bahwa dengan menyajikan bahan “copy” yang saya dapatkan dari berbagai sumber dengan gratis, adalah bahwa dengan menyajikan melalui mesin ketik kita dipaksa ulang membaca apa yang sudah kita dapatkan.
Dengan cara itu, ada dua sistem belajar yang hingga sekarang masih saya rasakan manfaatnya. Pertama dengan membaca ulang, maka kita akan lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh bahan yang kita dapatkan dan tentu saja apakah sudah sesuai dengan apa yang akan kita kerjakan.
Kedua, jikapun memang bahan-bahan yang kita butuhkan didapatkan dengan mudah di internet. Tapi kita tetap dipaksa untuk menyusun ulang setiap kata yang ingin kita laporkan dalam tugas. Sehingga bisa dipastikan tulisan atau laporan yang kita sajikan berbeda dengan laporan yang sudah dibikin oleh orang lain, meskipun sudut pandang dan referensi yang sama.
Namun melihat perkembangan sekarang, sungguh mengenaskan. Tidak sekedar di dunia musik yang mulai melakukan daur ulang lagu lawas yang mendapat tempat. Berbagai mode yang dikenankan oleh kalangan muda juga sudah sangat meniru kebudayaan orang lain. Di sana terlihat jelas, pada pelaku di industri musik terutama tidak memiliki kreatifitas maupun daya saing untuk meraih hasil yang terbaik.
Memasuki dunia tulis menulis, sebuah pesan dari seorang guru, meskipun kamu mendapatkan bahan dari rekan wartawan lainnya, saya minta tolong dilakukan perubahaan. Karena saya tidak ingin kalian hanya menjadi wartawan peniru, minimal kalian menjadi wartawan pemikir meskipun tidak banyak turun ke lapangan.
Kata-kata itu bagi saya cukup mengena. Karena dalam dunia persurat kabaran atau lebih umumnya media massa, kecederungan menjadi homogen dalam penyajian informasi kepada khalayaknya adalah kesalahan terbesar dari jajaran redaksi maupun wartawan.
Sebab dengan hadirnya begitu banyak pemain dalam bisnis media massa, logikanya masyarakat akan mendapatkan banyak begitu informasi yang beragam. Bayangkan jika informasi yang ditampilkan oleh berbagai media itu seragam, apa yang mau dibaca dan dinikmati dari media massa.\
Karena itu, untuk melawan plagiator yang selama ini marak di kalangan wartawan muda, kiranya selain kreatifitas dari yang bersangkutan, pelatihan dari jajaran managemen redaksi sangat diperlukan. Dengan pelatihan ini, selain belajar membuat sudut pandang peristiwa agar menjadi berita yang menarik, pelatihan ini juga dimaksudkan untuk menanamkan visi dan misi sebenarnya dari sebuah perusahaan pers.
Jika ini tidak dilakukan, dalam pandangan saya wartawan yang dihasilkan hanyalah wartawan peniru saja. Atau lebih ekstremnya, mereka bukan seorang wartawan yang pemikir dan kepingin tahu tentang sebuah peristiwa. Namun mereka akan juru tulis saja.
Secara pribadi, sebagai sesama penulis, untuk menjauhi dari sifat plagiator tadi. Selain terus banyak belajar, seorang wartawan pemula tentu saja harus mampu menjabarkan teori bahwa wartawan itu tahu tentang banyak hal meskipun sedikit. Bukan banyak namun sedikit hal.
Karena dengan mengetahui banyak hal meskipun hanya secuil, itu akan melatih kitauntuk terus berkreatifitas dengan berbagai bahan yang sudah ada di dalam kepala kita.
Sekian terima kasih.

KAYSER SOZE

Tetap nyata

Memiliki sebuah pandangan tentang hidup dan ketenangan yang pasti akan mati, nyatanya tetap membuat kita berada dalam jalur yang benar menempuh sisa hidup kita.
Sederhana saja. Kita seperti sebuah modul, yang terlihat begitu mudah dilakukan saat dibaca, namun nyatanya tetap saja kita menemui kesulitan yang terkadang mematahkan semangat hidup kita. Rasanya ketika kita berada pada sebuah amplitudo yang paling rendang, kita seperti mati.
Aku pernah membaca sebuah potongan kalimat yang memang mengambarkan diriku sebenarnya. Bahwa saat kita akan memulai sesuatu yang penting dan begitu panjang prosesnya dalam hidup kita, yang pertama mesti kita lakukan adalah melangkah kecil ke depan. Jikapun ada niat yang tulus serta penuh, langkah selanjutnya menuju tujuan mudah saja dilakukan.
Ini hanya teori yang kau pikir. Namun memang itu benar adanya untuk tetap menjadi acuan dalam hidup.
Menikmati pepaya dalam irisan kecil-kecil yang menimbulkan rasa manis di mulut rasanya tulisan ini tidak akan jadi bentuk yang indah. Tanpa kipas yang menantap kita, dia terlihat congkak dengan mengdongak, tapi tetap saja dia memberi arti walaupun sedikit.
Nenas malam ini tidak bisa tidur karena kepanasana. Langit di luar malam ini dalam kondisi sedikit mendung dan hanya memberi sedikit kesempatan pada beberapa bintang untuk tetap memberikan redup sinarnya.
Kembali lagi ke rumus teori tentang melakukan sesuatu yang sudah aku bilang diatas tadi. Untuk pekerjaan yang lain rasanya hal itu sangat berarti karena membuat saya secara pribadi menjadi lebih optimisi dan percaya diri. Tapi untuk urusan yang satu ini, saya mengaku lebih suka mengangkat tangan.
Cerpen alias cerita pendek adalah karya sastra favorit saya. Saya tidak ingat entah berapa puluh ribu cerpen baik yang sudah dicetak di buku atau koran-koran mingguan yang sudah saya lahap habis.
Ceritanya hanya adalah satu teman dan itu pun langsung habis dalam sekali tempo baca. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk membaca serta mengenali pesan apa yang ingin penulis sampaikan pada pembacanya.
Lalu jika kau menyukai cerpen kenapa tidak bikin cerpenmu sendiri? Itu mungkin pertanyaan yang kau ajukan kepadaku jika aku menceritakan tentang favorit bacaanku. Terus terang, aku menemui kesulitan untuk menjelaskan dari mana aku harus memulai.
Ini rasanya seperti pertama kali kita bertemu dan berkenalan dengan orang yang bagi kita begitu menarik serta tertantang menaklukannya. Darah naik ke semua saluran meskipun tidak mengakibatkan munculnya keringat dingin, dan jatung terus berdenyut keras tanpa bisa menghentikannya. Begitu pula yang aku rasakan saat akan memulai membuat sebuat cerpen.
Aku tidak pernah kehabisan ide untuk cerpen yang nantinya aku buat. Aku Cuma tidak memiliki keberanian untuk memulai menuliskan satu kalimat pembuka. Karena ketakukan, saat kata pertama sudah tertulis, dan kau tidak menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan kalimat itu, maka artinya kau bisa dikategorikan gagal.
Kalimatku terhenti pada tangisan pertamanya yang mengetarkan dunia. Ini yang dulu aku tulis pada awal kehadirannya. Namun hanya satu kalimat itu saja dan aku tidak bisa melanjutkan lagi apa yang nantinya akan menjadi sambungannya. Ibarat kereta, aku kehilangan pegangan dan hanya bisa terhenti di stasiun tua ini, tanpa kawan, tanpa penumpang, dan hanya dilintasi waktu serta laju teman yang lain.
Kau tahu kawan, hanya itu yang aku bisa saat kau tantang aku lebih jauh dalam dunia sastra. Aku penuh ide, namun tidak bisa dengan mudah menemukan jalan untuk merangkainya. Karena itu hingga sampai sekarang ini aku lebih suka mencurahkan ide-ideku dalam berbagai puisi.
Tidak panjang dan berbelit puisi yang aku ciptakan. Aku hanya terfokus pada makna dan keindahan kata serta pepadanan. Artinya, jika satu kata tidak serasi atau sepadan dengan kata berikutnya,maka aku akan terhenti serta berpikir untuk mengantinya dengan kata yang lain.
Mirip Chairil Anwarlah pola pikir yang aku suka. Tidak merunut ejaan bahasa yang benar, namun indah dan penuh makna saat dibacanya.
Salam.....

Dari sang Pengali Pasir

Fakir, itu dekat sekali dengan kafir. Hanya ada dua pilihan bagi kita yang tergolong miskin ini, syukur atau kufur.
Kalau kita selalu penuh dengan syukur, apapun kondisi yang kita yang kita terima, maka derajat kita akan lebih tinggi dibanding orang-orang kaya yang pandai bersykuru.
Tapi, kalau kita kufur, derajat kita akan lebih rendah daripada orang kaya yang kufur.

KAYSER SOZE

Gambaran keinginan

Seorang teman lama yang sudah lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis berita dan juga seorang guru yang hebat meskipun dalam kondisi bisa dikatakan kurang sara sempat memberi nasehat yang sampai sekarang terpatri di kepala.
Tak panjang memang nasehat yang diberikan, hanya sepatah kata pendek dan diucapkan tanpa mimik serius. “Meskipun dirimu sekarang ini tidak lagi menulis, terutama berita. Tapi menulis lebih baik tetap dilakukan,” ujarnya.
Pertama saya pikir itu adalah guyonan, teman lama yang prihatin dengan kondisi saya sekarang yang sedang sekarang dan tidak produktif lagi.
Bukannya mengeluh atau tidak mensyukuri apa yang sudah diberikan kepada saya sekarang ini. Namun semenjak fokus di bidang yang sejak muda kurang bersemangat untuk menjalankan, rasanya kreatifitas, semangat menyajikan terbaik untuk orang lain terasa hilang.
Dunia kerja bagi saya sejak kecil adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk tetap melanjutkan hidup dengan bergerak tiada pernah henti, tak mudah menyerah, dan penuh dengan perlawanan dari pesaing. Berubah saat harus bekerja dengan sedikit tenaga namun mampu menghasilkan banyak hasil.
Menulis, bagi saya bukan suatu perkara yang sulit. Namun menulis untuk menghasilkan sesuatu yang unik, menarik, dan tentu saja menghasilkan pendapatan bukanlah hal yang mudah. Perlu belajar banyak teori, perlu pengamatan langsung di lapangan, perlu banyak membaca, serta tidak pernah putus asa kehilangan semangat serta asa demi hasil terbaik.
Perkerjaan membuat lebih mudah dan dirasa aman daripada menjual. Padahal di lapangan, saat barang berkualitas jelek, jelas tak lakulah dia.
Ibarat kacang goreng, dengan harga murah mendapatkan dalam jumlah yang banyak serta sedikit berkualitas tentu saja akan laris dicari orang. Beda dengan produk yang dikerjakan dengan setengah saja, hasilnya tentu saja tidak maksimal untuk dijual guna mendapatkan keuntungan.
Sebuah teori baru saya terima minggu lalu dari Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group. Baginya pertumbuhan surat kabar itu tidak terlepas dari dua elemen, yaitu iklan serta sirkulasi (Peredaran koran).
Dalam pandangannya, sebuah surat kabar yang hanya mengandalkan iklan saja sebagai pendapatan utama sangatlah tidak sehat. Jika iklan sudah banyak, tentu saja kualitas isi surat kabar akan dikorbankan oleh managemen karena adanya kebutuhan iklan.
Ini sangat berpengaruh kepada pelanggan yang loyal, dimana mereka pada awalnya melihat surat kabar dari kualitas isi, dan saat sadar surat kabar favorit mereka penuh iklan, mampu sudah.
Demikian juga dengan surat kabar yang hanya mengandalkan sirkulasi sebagai aspek omzet utama. Meskipun memiliki persebaran koran yang luas dari tingkat keterbacaan. Namun dengan tidak adanya pemasukkan iklan, bisa jadi omzet total untuk menutup biaya produksi akan sangat tidak cukup dari aspek ini.
Sebagai solusi utama, jika ingin dikatakan ideal dari segi pendapatkan, maka Dahlan menyarankan agar sebuah surat kabar haruslah bisa membagi aspek utama omzetnya kedalam kedua hal itu secara adil sesuai kemampuan. Imbangnya adalah 60:40 untuk iklan dibanding sirkulasi.
Kenapa harus seperti itu. Dengan gamblang Dahlan mengambarkan, ketika sebuah surat kabar dalam kondisi pendapatan iklannya lebih kecil dibandingkan dengan target yang sudah ditentukan. Maka yang pertama kali disalahkan adalah tim sirkulasi. Sebab dengan tidak adanya persebaran koran tidak maksimal, maka hal itu tidak bisa disampaikan ke klien yang dituju.
Jikapun nantinya iklan sudah melebih target pendapatan, maka hal itu perlu mendapatkan kewaspadaan extras. Seperti tadi di atas, ketika ruang berita dipenuhi dengan ruang berita, maka dipastikan pelanggan loyal akan berpindah ke surat kabar yang lebih mementingkan kualitas berita.
Lantas dalam kondisi ini bagaimanakan kedudukan dari sirkulasi. Sama seperti iklan, jika nantinya sirkulasi tidak bisa memenuhi target omzet yang sudah ditetapkan, maka seharusnyalah mereka menyalahka redaksi.
Kenapa? Sebab tanpa adanya kualitas berita serta tampilan yang menarik, maka sebuah surat kabar tidak akan memiliki nilai jual di pasaran. Sehingga sangatlah wajar, jika dalam hubungan ini divisi produksi yang memegang peranan utama dalam keberlangsungan surat kabar.
Namun bagaimana jika dalam beberapa kurun periode pendapatkan iklan masih melebihi dari target dan sirkulasi tidak berkembang seperti harapan. Maka salah satu yang wajib dilakukan managemen adalah mempergunakan kelebihan pendapatan iklan untuk melakukan pembenahan di bagian redaksi. Entah dengan memberi pelatihan intensif atau lainnya, yang bertujuan mampu menyajikan berita dan tampilan surat kabar yang memiliki nilai jual.
Bagi Dahlan, skema seperti ini sangat ideal diterapkan di berbagai macam surat kabar di Indonesia yang lebih banyak dikelola secara perseorangan atau keluarga besar. Berbeda dengan surat kabar kondisi di luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika.
Di kedua benua maju itu, kepemilikan surat kabar sudah dijual dalam bentuk saham. Sehingga ketika terjadi penurunan kualitas berita yang berujung pada penurunan pelanggan serta pendapatkan iklan, maka untuk mengenjot penambahan modal saham yang sudah ada dilempar ke pasar modal dengan harga yang lebih murah.
Akibatnya, ketika saham yang berbandrol murah tidak lagi diminati investor maka surat kabar yang bersangkutan sudah bisa dipastikan bangkrut serta hanya akan bertempur sengit di dunia maya yang sekarang ini berkembang pesat.
Apa yang saya sajikan di atas kiranya persis seperti apa terjadi sekarang ini. Dengan tingkat persaingan surat kabar yang begitu kompleks di Jogja, maka mau tidak mau divisi produksi dituntut lebih bekerja keras untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing.
Segentol-gentolnya tim pemasar, sirkulasi, maupun promosi melakukan tugas utama mereka, namun jika produk yang dihasilkan tidak bisa memberikan nilai jual bisa dipastikan semua itu sia-sia.
Bukannya saling menyalahkan dalam kondisi yang begitu tertekan ini. Namun dengan kepala terbuka, apa yang saya tulis diatas itu memang ada benarnya dan bisa dilakukan demi mendapatkan suatu yang selama ini kita harapkan.
Terus terang, selama kuliah saya tidak pernah mendapatkan ilmu untuk memasarkan surat kabar. Dimanapun, pembelajaran mengenai ilmu komunikasi, terutama jurnalistik, lebih banyak berbicara tentang pembuatan produk yang berkualitas dan layak jual.
Jika sudah tercipta produk yang berkualitas dan dicari orang, maka sangatlah cepat produk tersebut dicari orang untuk selanjutnya menjadi referensi dan kebutuhan utama mencari informasi.
Ini hanya gambaran awal tentang perkembangan awal tentang media yang kemarin saya pelajari. Semoga bermanfaat.

KAYSER SOZE

2012

Seorang teman lama yang sudah lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis berita dan juga seorang guru yang hebat meskipun dalam kondisi bisa dikatakan kurang sara sempat memberi nasehat yang sampai sekarang terpatri di kepala.
Tak panjang memang nasehat yang diberikan, hanya sepatah kata pendek dan diucapkan tanpa mimik serius. “Meskipun dirimu sekarang ini tidak lagi menulis, terutama berita. Tapi menulis lebih baik tetap dilakukan,” ujarnya.
Pertama saya pikir itu adalah guyonan, teman lama yang prihatin dengan kondisi saya sekarang yang sedang sekarang dan tidak produktif lagi.
Bukannya mengeluh atau tidak mensyukuri apa yang sudah diberikan kepada saya sekarang ini. Namun semenjak fokus di bidang yang sejak muda kurang bersemangat untuk menjalankan, rasanya kreatifitas, semangat menyajikan terbaik untuk orang lain terasa hilang.
Dunia kerja bagi saya sejak kecil adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk tetap melanjutkan hidup dengan bergerak tiada pernah henti, tak mudah menyerah, dan penuh dengan perlawanan dari pesaing. Berubah saat harus bekerja dengan sedikit tenaga namun mampu menghasilkan banyak hasil.
Menulis, bagi saya bukan suatu perkara yang sulit. Namun menulis untuk menghasilkan sesuatu yang unik, menarik, dan tentu saja menghasilkan pendapatan bukanlah hal yang mudah. Perlu belajar banyak teori, perlu pengamatan langsung di lapangan, perlu banyak membaca, serta tidak pernah putus asa kehilangan semangat serta asa demi hasil terbaik.
Perkerjaan membuat lebih mudah dan dirasa aman daripada menjual. Padahal di lapangan, saat barang berkualitas jelek, jelas tak lakulah dia.
Ibarat kacang goreng, dengan harga murah mendapatkan dalam jumlah yang banyak serta sedikit berkualitas tentu saja akan laris dicari orang. Beda dengan produk yang dikerjakan dengan setengah saja, hasilnya tentu saja tidak maksimal untuk dijual guna mendapatkan keuntungan.
Sebuah teori baru saya terima minggu lalu dari Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group. Baginya pertumbuhan surat kabar itu tidak terlepas dari dua elemen, yaitu iklan serta sirkulasi (Peredaran koran).
Dalam pandangannya, sebuah surat kabar yang hanya mengandalkan iklan saja sebagai pendapatan utama sangatlah tidak sehat. Jika iklan sudah banyak, tentu saja kualitas isi surat kabar akan dikorbankan oleh managemen karena adanya kebutuhan iklan.
Ini sangat berpengaruh kepada pelanggan yang loyal, dimana mereka pada awalnya melihat surat kabar dari kualitas isi, dan saat sadar surat kabar favorit mereka penuh iklan, mampu sudah.
Demikian juga dengan surat kabar yang hanya mengandalkan sirkulasi sebagai aspek omzet utama. Meskipun memiliki persebaran koran yang luas dari tingkat keterbacaan. Namun dengan tidak adanya pemasukkan iklan, bisa jadi omzet total untuk menutup biaya produksi akan sangat tidak cukup dari aspek ini.
Sebagai solusi utama, jika ingin dikatakan ideal dari segi pendapatkan, maka Dahlan menyarankan agar sebuah surat kabar haruslah bisa membagi aspek utama omzetnya kedalam kedua hal itu secara adil sesuai kemampuan. Imbangnya adalah 60:40 untuk iklan dibanding sirkulasi.
Kenapa harus seperti itu. Dengan gamblang Dahlan mengambarkan, ketika sebuah surat kabar dalam kondisi pendapatan iklannya lebih kecil dibandingkan dengan target yang sudah ditentukan. Maka yang pertama kali disalahkan adalah tim sirkulasi. Sebab dengan tidak adanya persebaran koran tidak maksimal, maka hal itu tidak bisa disampaikan ke klien yang dituju.
Jikapun nantinya iklan sudah melebih target pendapatan, maka hal itu perlu mendapatkan kewaspadaan extras. Seperti tadi di atas, ketika ruang berita dipenuhi dengan ruang berita, maka dipastikan pelanggan loyal akan berpindah ke surat kabar yang lebih mementingkan kualitas berita.
Lantas dalam kondisi ini bagaimanakan kedudukan dari sirkulasi. Sama seperti iklan, jika nantinya sirkulasi tidak bisa memenuhi target omzet yang sudah ditetapkan, maka seharusnyalah mereka menyalahka redaksi.
Kenapa? Sebab tanpa adanya kualitas berita serta tampilan yang menarik, maka sebuah surat kabar tidak akan memiliki nilai jual di pasaran. Sehingga sangatlah wajar, jika dalam hubungan ini divisi produksi yang memegang peranan utama dalam keberlangsungan surat kabar.
Namun bagaimana jika dalam beberapa kurun periode pendapatkan iklan masih melebihi dari target dan sirkulasi tidak berkembang seperti harapan. Maka salah satu yang wajib dilakukan managemen adalah mempergunakan kelebihan pendapatan iklan untuk melakukan pembenahan di bagian redaksi. Entah dengan memberi pelatihan intensif atau lainnya, yang bertujuan mampu menyajikan berita dan tampilan surat kabar yang memiliki nilai jual.
Bagi Dahlan, skema seperti ini sangat ideal diterapkan di berbagai macam surat kabar di Indonesia yang lebih banyak dikelola secara perseorangan atau keluarga besar. Berbeda dengan surat kabar kondisi di luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika.
Di kedua benua maju itu, kepemilikan surat kabar sudah dijual dalam bentuk saham. Sehingga ketika terjadi penurunan kualitas berita yang berujung pada penurunan pelanggan serta pendapatkan iklan, maka untuk mengenjot penambahan modal saham yang sudah ada dilempar ke pasar modal dengan harga yang lebih murah.
Akibatnya, ketika saham yang berbandrol murah tidak lagi diminati investor maka surat kabar yang bersangkutan sudah bisa dipastikan bangkrut serta hanya akan bertempur sengit di dunia maya yang sekarang ini berkembang pesat.
Apa yang saya sajikan di atas kiranya persis seperti apa terjadi sekarang ini. Dengan tingkat persaingan surat kabar yang begitu kompleks di Jogja, maka mau tidak mau divisi produksi dituntut lebih bekerja keras untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing.
Segentol-gentolnya tim pemasar, sirkulasi, maupun promosi melakukan tugas utama mereka, namun jika produk yang dihasilkan tidak bisa memberikan nilai jual bisa dipastikan semua itu sia-sia.
Bukannya saling menyalahkan dalam kondisi yang begitu tertekan ini. Namun dengan kepala terbuka, apa yang saya tulis diatas itu memang ada benarnya dan bisa dilakukan demi mendapatkan suatu yang selama ini kita harapkan.
Terus terang, selama kuliah saya tidak pernah mendapatkan ilmu untuk memasarkan surat kabar. Dimanapun, pembelajaran mengenai ilmu komunikasi, terutama jurnalistik, lebih banyak berbicara tentang pembuatan produk yang berkualitas dan layak jual.
Jika sudah tercipta produk yang berkualitas dan dicari orang, maka sangatlah cepat produk tersebut dicari orang untuk selanjutnya menjadi referensi dan kebutuhan utama mencari informasi.
Ini hanya gambaran awal tentang perkembangan awal tentang media yang kemarin saya pelajari. Semoga bermanfaat.


KAYSER SOZE

Minggu, 29 Mei 2011

Kampung tanpa jalan

Sepanjang hidup kalian, pernahkan kalian mendengar sebuah kampung yang tidak memiliki jalan masuk seperti kampung lainnya. Maksudku jalan masuk yang menandakan masuk sebuah kampung dengan gapura atau hanya semacam simbol yang menanda memasuki sebuah kampung. Anehnya, meskipun tidak memiliki jalan masuk, namun penduduk kampung ini hampir absen di dunia umum.
Jika kalian ingin mendengar bagaimana kehidupan kampung tanpa jalan, adanya baiknya kalian meluangkan waktu sejenak untuk mendengar cerita tentang kampung tempat aku dibesarkan yang sama sekali tidak memiliki jalan masuk.
Kampungku berada di sebuah desa dari kecamatan yang tidak pernah diperhatikan pemerintahan daerahnya di bagian timur pulau ini. Sehingga kami, secara umum menyatakan hidup dan bekembang sendiri tanpa bantuan dari pemerintah.
Sebenarnya ini bukan kampungku, maksudku, sebenarnya aku dan keluargaku baru pindah ke kampung ini ketika kami lima bersaudaran sudah bersekolah semua. Sedangkan kampung tempat aku dilahirkan sekarang ini sudah berganti dengan bangunan megah yang dinamakan sebagai tempat penyimpanan uang.
Terletak di pinggir sungai besar dan himpitan bangunan megah sebuah hotel, lahirlah kampung yang hingga sekarang ini tidak memiliki jalan masuk. Menempati bekas cengkungan aliran sungai yang bertahun-tahun sudah tidak dialiri lagi, maka munculan kampung baru yang dihuni warga pendatang dengan cara menyewa seumur hidup kepada aparat dinas pengurusan air yang uangnya masuk kekantong sendiri.
Karena berada di bekas cengkungan, maka kampung baru ini lebih banyak disebutkan banyak orang dengan nama “Ledok Asri”. Yang artinya hunian yang berada di ledokkan atau cengkungan sebuah sungai.
Lantas bisa aku pastikan, kalian pasti akan bertanya bagaimana rumah-rumah warga itu bisa dibangun dengan semen dan material umum lainnya, sedangkan jalan masuk saja tidak ada?
Seperti yang aku sebutkan tadi diatas, memang kampungku tidak memiliki jalan masuk seperti layaknya kampung lainnya. Sejak diresmikan sebagai kampung baru, maka warga baru dan lama berunding yang akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan warga untuk membeli sebidang tanah dari salah warga yang lebarnya kurang dari satu meter. Karena sangat membutuhkan, lantas warga baru itu lantas sepakat membeli tanah itu untuk dijadikan sebuah jalan dengan panjang kurang dari sepuluh meter sebagai jalan masuk.
Nah dari jalan baru inilah, maka berbagai kebutuhan material semisal bata, kayu, semen, dan berbagai peralatan lainnya didatangkan dari dunia luar. Sedangkan untuk batu dan pasir, warga baru ini dengan mudahnya bisa mendapatkan di sungai besar yang berada di sebelah barat kampung.
Selain jalan baru yang dibikin bersama warga atas, kami biasa menyebut warga lama demikian karena mereka menghuni bagian atas dari kampung kami. Kami juga memiliki jalan lain yang kami kira malah sangat menantang dan menyenangkan. Bahkan kami memiliki dua jalan.
Yang pertama, adalah jalan masuk setapak yang berujung di jembatan besar yang berada di sisi selatan kampung atau arah hilir. Sehingga bila melewati jalan ini, maka kalian diwajibkan dahulu meniti jalan menanjak untuk sampai di bibir jembatan yang langsung berhubungan dengan jalan raya. Tentu saja, jika kalian lewat malam hari, jalan ini akan semakin menantang dan penuh bahaya.
Selain di kanan-kiri masih semak tanaman berduri, selain harus menanjak dalam gelap, di beberapa tempat terutama di rerimbunan pohon bambu kita akan mendengar suara-suara orang bercakap-cakap sambil sesekali kita akan melihat setitik sinar yang berasal dari rokok. Jangan kuatir atau takut mereka akan menganggu, karena mereka memang tidak ingin diganggu.
Jika kalian berpikir itu adalah dedemit penjaga sungai ini, maka itu salah. Mereka adalah manusia yang sama dengan kita. Namun mereka adalah manusia malam. Dimana mereka ini adalah para penjaja dan penikmat cinta sesaat. Ya memang kampungku memang bersebelahan dengan portitusi murahan yang tempat kencannya di bawah rimbun bambu.
Jangan berharap kalian akan menemukan wanita mudah yang cantik dan segar layaknya portitusi lainnya. Penjaja portitusi pinggir kali ini lebih banyak dihuni ibu-ibu yang layaknya disebut anak-anak kita dengan panggilan nenek dan untuk menarik perhatian pembeli mereka memakai bubuk berwarna putih dalam dosis yang tidak wajar sehingga terlihat terang di dalam gelap.
Karena beroperasi malam hari, dapat dipastikan kita tidak akan menemukan mereka siang hari. Sebab memang mereka bukan warga sini. Tambahan lagi, kami tidak mungkin membubarkan atau melarang mereka, sebab mereka sama seperti kami yang juga mencari makan di tengah jaman yang semakin edan ini. Asalkan mereka tidak menganggu, kami tidak akan menganggu.
Sedangkan jalan kedua yang juga sama-sama menantang dan menyenangkan, adalah menyeberangi sungai hingga ke daratan sebelah barat. Tentu saja, jalan ini lebih banyak munculnya ketika musim kemarau datang dimana saat itu aliran sungai menjadi kecil sehingga terjadi pendangkalan.
Dari menyebrangi sungai ini, kita akan dihadapakan pada jalan setapak yang juga sama-sama menanjak, namun jika sudah sampai di atas maka kepuasan batin saya pastikan akan kalian dapat. Dimana dari atas bukit itu kita bisa melihat kampung ledok asri dari bagian atas, semua terlihat indah bagai lukisan kampung yang muncul di tengah hutan bambu yang asri.
Namun semenjak kampung ini hadir, kedua jalan itu lebih banyak dipergunakan jika keadaan terdesak. Semisal ketika terjadi kejar mengkejar dengan pencuri ayam yang kebetulan masuk, inilah dua-dua jalan utama yang akan dipergunakan pelaku kejahatan untuk melarikan diri dan tentu saja karena tidak paham medan kami mudah saja menangkapnya.
Tentang kehidupan di kampung tanpa jalan ini, secara pribadi saya menyatakan inilah satu-satunya kampung terdamai di dunia. Bayangkan, berada di tempat yang tersembunyi dan jauh dari peradaban, kampung ini juga memiliki pemandangan alam yang tiada duanya di bagian lain dunia ini yang berasa dari sungai besar yang tiada pernah berhenti mengalir.
Karena sulitnya akses masuk, maka beberapa warga yang gemar berjudi lantas mendirikan sebuah pos kamling di pingir sungai dan dibawah rumpun bambu. Disanalah hampir setiap malam pertandingan judi dengan omzet ratusan ribu rupiah digelar dan aman dari gangguan aparat keparat.
Dalam proses pembangunan kampung baru ini, kami warga baru sepakat mendesain kampung ini dengan konsep terbuka dan memudahkan untuk komunikasi. Sehingga bangunan tiap rumah diatur sedemikian rupa dan dihubungkan dengan jalan setapak yang sesuai kesepakatan tidak akan pernah dibeton karena ingin menjaga alam dengan membiarkan alir mengalir dan masuk ke tanah.
Jalan-jalan ini selain menghubungkan tiap rumah, dipastikan akan bermuara pada area kosong yang berada di tengah kampung. Di area kosong yang tidak memiliki rumput indah ini dan hanya berhiasakan pohon jambu dan mangga yang setiap musim selalu dinikmati anak-anak kami setiap sore berkumpul untuk beraktivitas bersama.
Entah itu bermain bersama anak-anak atau melihat mereka bermain sepak bola, voli, ataupun hanya sekedar berlari-lari keliling area karena tidak adanya kendaraan motor yang bisa berkeliaran semaunya hingga capai itu sangat menghibur kami. Bahkan tidak sekedar menjadi ruang publik, area kosong dengan kursi-kursi bekas bus kota itu menjadi medai bergosip ria bagi ibu rumah tangga tentang berbagai hal.
Ini masih belum cukup, karena tidak akses masuk sehingga sedikit saja orang yang berseliweran, terutama orang asing, kami dengan mudahnya bisa menikmati aliran sungai besar itu.
Yang tidak hanya menjadi tempat sampah yang besar, namun sungai besar itu juga menjadi sebuah ruang umum bagi kami untuk bersosialisasi berbarengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga semisal mencuci baju. Namun karena tidak adanya orang asing, para ibu-ibu dan remaja, dan tidak lupa kami para pria dengan tidak malunya mandi di sungai tanpa takut diintip orang lain.
Tapi yang paling aku senangi dari kampung ini adalah ketika musim kemarau panjang tiba. Pasalnya ketika air sungai mengecil dan itu berakibat sedikitnya air di sumur kami, maka kami para pria bergotong royong membuat belik atau kolam mata air yang kami pergunakan untuk mandi maupun kebutuhan yang berdasarkan air.
Jadi bisa dipastikan, ketika sore hari, baik wanita maupun pria akan berkumpul di pinggir sungai untuk menikmati air kolam yang sangat jernih itu. Bahkan untuk kolam pria dengan kondisi terbuka, kami tidak malu untuk saling bekejar-kejaran dan mengoda yang lain di tengah-tengah mereka yang ngobrol serta berguyon seru. Inilah aksinya bermain sebelum mandi.
Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari jembatan besar itu, biasanya anak-anak baru gede lebih senang dengan mengobrol dengan cara telanjang bulat dan duduk di atas batu sungai. Mereka bahkan tidak malu-malu mengoda anak-anak yang baru pulang sekolah sore dengan berteriak serta melompat-melompat mengoda agar diperhatikan bahwa mereka telanjang.
Akhirnya karena lebih banyak diisi dengan kegiatan ngobrol, maka kegiatan mandi yang seharusnya sebentar bisa sampai berjam-jam. Sebagai gambaran saja jika kalian datang sekitar pukul empat sore maka dipastikan kalian akan sampai rumah ketika adzan magrib berkumandang dengan wajah ceria dan teriakan-teriakan masih saling mengejek dengan teman sekampung yang memang rumahnya tidak berjauhan.
Dengan posisi rumah saling berdekatan, selain menimbulkan keakraban penghuninya, berbagai permasalahan tentang keluarga juga tidak pernah luput menjadi pembicaraan bagi kami yang memang bisa mendengarnya dari tempat duduk kami menikmati makan malam sambil menikmati anak belajar.
Lalu bagaimana dengan ada kematian, bukankah akan kesulitan jika harus mengeluarkan jenazah dari kampung yang tidak memiliki jalan masuk ini?
Sebenarnya hal itu juga pertama kali membinggungkan warga kampung kami saat mereka mulai menghuni. Namun ketika kakekku meninggal dunia, atau artinya dia adalah kasus kematian pertama warga kampung mencari solusinya dengan mencari keranda mayat dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan biasanya.
Bila keranda biasanya digotong penuh oleh empat pria di empat sisinya, maka ketika melintasi jalan kecil yang menghubungkan kampung ledok dan atas, maka keranda itu tidak diangkat lagi melainkan dijinjing layaknya membawa keranjang dan ini menjadi pemecahaan selamanya. Mudah kan.
Namun semuanya ini hanya tinggal kenangan abadi bagi kami warga ledok asri yang masih hidup. Pasalnya sejak kami menghuni kampung ini sepuluh tahun yang lalu, banjir besar yang terjadi pada tengah malam satu malam di bulan suro menghancurkan kampung yang asri dan damai ini. Tercatat hampir separuh warga kampung ini tidak bisa menyelematkan diri karena terjangan air sungai yang datang tanpa isyarat dan esok paginya mereka diketemukan terjepit bebatuan di bagian hilir.
Satu tahun sejak bencana itu terjadi, aku kembali lagi, namun sekarang ini bukan rumah penduduk yang rapi dan asri lagi yang aku temui, melainkan semak-semak liar yang tumbuh tanpa terawat di segala sudut sisa bangunan yang masih tertanam. Semenjak banjir itu, pemerintah memutuskan melarang siapapun menghuni lagi wilayah sungai itu karena dinilai bahaya.
Dari sinilah, akhirnya aku bisa belajar satu hal lagi, bahwa bagaimana kuatnya kita melawan alam, bisa dipastikan kita akan kalah juah di suatu waktu tanpa bisa kita pahami lagi.









KAYSER SOZE